Senin, 13 Juni 2011

Antara Nurani Dan Ambisi


Darminto tersenyum lebar melihat wajah istri mudanya yang kelihatan bersemangat dengan mata berbinar-binar seperti kilauan petir yang diabadikan oleh kamera tercanggih. Andini, nama istri muda yang dinikahinya sembilan bulan lalu dengan status nikah siri dan sembunyi-sembunyi. Andini berlari berlari ke arah Darminto, menubruk dan memeluknya. Darminto terkesiap, kemudian ia limbung dan tanpa dapat dicegah mereka berguling-guling di lantai. Tawa Andini berderai, tak peduli dengan rasa sakit di kepalanya yang terbentur meja tamu.
“Ke Paris, Pa? Ini kejutan yang luar biasa,” kata Andini dan selanjutnya ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Darminto.
Darminto mengangguk,”Bukankah itu yang kamu inginkan sejak dulu?”
“Iya, Pa. Terima kasih. Kapan kita berangkat?” Tanya Andini merubah posisi menjadi duduk di lantai bersandar di sofa. Darminto pun ikut duduk di sebelahnya.
”Minggu depan,” jawab Darminto pasti.
”Berapa lama rencananya disana, Pa?” tanya Andini dan kembali ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Darminto. Perlakuan seperti ini membuat Darminto merasa menjadi muda kembali.
”Seminggu. Jangan terlalu banyak bawa pakaian. Bawa yang simpel saja ya,” ujar Darminto.
Andini menjerit tertahan,”Berarti bisa beli baju-baju paris yang modis dan eksotis, donk!”
Darminto mengangguk dan tersenyum semakin lebar melihat istrinya kemudian berdiri, berjingkrak-jingkrak kegirangan. Sepanjang siang mereka menghabiskan waktu bercengkrama, bercanda ria dan saling melontarkan kata-kata mesra. Tak terasa ia telah menghabiskan waktu siangnya bersama Andini. Menjelang magrib Darminto pamit untuk pulang ke rumah istri pertamanya.
Sesampai di rumah istri pertamanya, Darminto disambut hangat oleh istrinya, Aini. Aini selalu menyongsong kedatangan sang suami bila mendengar suara mobilnya memasuki halaman rumah. Darminto merasa dirinya adalah orang yang paling beruntung di dunia karena memiliki dua istri yang begitu memperhatikannya, mendewakannya dan benar-benar memperlakukannya seperti raja.
Air hangat bergaram dalam baskom sudah tersedia untuk rendaman kakinya. Setelah melepaskan sepatu, Aini merendamkan kaki suaminya dengan tujuan menghilangkan kelelahan di kaki.  Semua perlengkapan mandi telah tersedia di tempatnya. Darminto membersihkan dirinya sebelum menghadapi hidangan yang telah dipersiapkan Aini di meja makan.
Kedua anaknya telah menunggu di meja makan. Gadis tertuanya telah kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta dan adik laki-lakinya hampir menamatkan SMA. Kedua anak hasil didikan Aini ini sangat membanggakannya baik dengan prestasi akademis maupun dengan prilaku mereka yang selalu memperhatikan etika dan sopan santun.
”Bagaimana dengan mobil yang Papa berikan Aliya? Kamu senang menerimanya?”tanya Darminto membuka pembicaraan mereka.
”Makasih, Pa. Aliya sangat senang menerimanya. Tapi, sebenarnya Aliya belum begitu membutuhkannya. Biar Aliya berangkat sama dengan Toro saja kalau kebetulan kuliah pagi. Mobilnya akan Aliya pakai ketika benar-benar membutuhkan,” jawab Aliya sambil memberi senyum termanisnya.
”Alah... pakai saja Aliya. Kenapa mesti berangkat sama dengan Toro. Jika kamu bawa mobil sendiri, kamu lebih bisa bebas bergerak. Kan kamu sudah harus mencari data untuk skripsimu,” Darminto heran dengan anak-anaknya yang selalu ingin memperlihatkan hidup sederhana.
Aliya tersenyum menanggapi perkataan ayahnya,”Aliya akan memakainya jika memang membutuhkannya, Pa.”
”O, ya. Minggu depan Papa ada studi banding di Paris. Kalian mau titip apa?” tanya Darminto sambil melihat istrinya.
”Saya hanya minta, Papa sehat dan selamat saja, Pa,” ujar Aini.
”Kamu tak ingin  dibawakan oleh-oleh, Ma?” tanya Darminto.
Aini tersenyum,”Kesehatan dan keselamatan Papa adalah oleh-oleh yang selalu saya harapkan.”
”Toro, Aliya, kalian ingin dibawakan apa?” Darminto beralih kepada anak-anaknya.
”Gitar spanyol yang pinggangnya ramping, Pa,” jawab Toro penuh semangat.
”Emang di Paris ada yang seperti itu?” tanya Darminto.
”Hahaha... siapa tau ada, Pa,” jawab Toro dengan ringan.
”Hmmm... kok studi banding terus Pa? Perasaan belum lama ini studi banding juga ke New Zealand. Sebenarnya apa sih studi banding yang dimaksud?” Aliya memperhatikan ayahnya dengan seksama.
”Ya, teknisnya meninjau pelaksanaan sesuatu di negeri orang sebagai bahan perbandingan bagi kita. Pelaksanaannya, lebih banyak jalan-jalannya,” jelas Darminto.
”Papa, hal itu sudah tidak sesuai dengan sasaran. Mengapa Papa mengikutinya?” pertanyaan Aliya membuat Darminto menghentikan suapnya.
”Hal itu harus Papa ikuti karena ditugaskan,” Darminto berusaha memberi pemahaman pada putrinya.
”Tapi pelaksanaannya sudah tidak sesuai dengan tujuannya. Itu sama dengan buang-buang uang negara, Papa. Lebih bijak kalau Papa menolak tugas itu karena akan memalukan diri sendiri. Masyarakat akan mencemooh hal tersebut,” Aliya berkata tegas dan menyatakan pendapatnya dengan keterus-terangan yang membuat ayahnya merasa tak enak.
”Pendapatmu terlalu mengada-ngada. Ah, sudahlah. Habiskan makanannya biar kita bisa istirahat lagi,” ujar Darminto tidak ingin melanjutkan pembicaraan tersebut sebab ia tahu Aliya akan semakin memojokkannya dengan berbagai argumen. Anaknya yang satu itu memang sangat kritis dalam menganggapi suatu persoalan. Bahkan tidak jarang ia tergigit lidah bila beradu argumen dengan Aliya.
Selesai acara makan malam bersama keluarga Darminto masuk kamar dan berbaring di tempat tidur. Aini menyusulnya dan ikut berbaring di sebelahnya. Lama mereka berdiam diri dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
”Pa, sebenarnya pendapat Aliya itu benar lho,” Aini mulai membuka pembicaraan. ”Kami bangga Papa bisa duduk disana. Tapi Pa, tetaplah menjadi Papa kami yang nuraninya selalu lebih dominan dari ambisinya.”
”Apa Mama merasa Papa berubah?” tanya Darminto.
”Apapun akan selalu mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, Pa,” jawab Aini sambil melirik Darminto. Ia memang merasa perubahan sikap suaminya. Namun ia tak berani terlalu mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru akan memancing kebohongan suaminya.
Darminto bergumam tak jelas dan kemudian terdengar dengkurnya. Dalam tidurnya ia bermimpi yang amat tidak sedap. Nuraninya berperang dengan ambisinya. Seperti lembaran kartu yang masing-masing memegang pedang dan saling melukai. Darminto benar-benar gelisah dalam tidurnya malam ini.
Seminggu kemudian Darminto beserta rombongan telah berada di Paris. Andini benar-benar memuaskan dirinya dengan berbelanja pakaian dan berbagai aksesoris. Darminto sudah mengingatkannya agar mulai membatasi belanja, namun sepertinya  Aini tidak mengindahkan peringatan tersebut. Bahkan ia mulai menawar perhiasan yang harganya selangit. Darminto mulai kesal.
”Masa’ perhiasan murah begini Papa tak bisa belikan?” pertanyaan Andini seperti menantang kemampuan finansial Darminto.
”Belanja kamu sudah melampaui batas kewajaran. Jangan norak deh!” suara Darminto mulai meninggi.
Andini cemberut dan tersinggung dengan perkataan Darminto barusan,”Jika tak mampu belikan, jangan bilang aku ’norak’ Pa! Aku bisa beli sendiri kok.”
Darminto langsung menarik istrinya keluar dari galeri yang mereka datangi. Darminto langsung membawa istrinya menuju hotel dan menyuruhnya menunggu di kamar sementara ia mengadakan pertemuan dengan beberapa orang rekannya. Andini menahan rasa kesalnya dan bermaksud melanggar perintah suaminya itu karena teringat kemarin Widodo, salah seorang rekan suaminya menawarkan untuk naik menara Eifel melihat keindahan kota Paris.
Setelah Darminto meninggalkannya di kamar, Andini langsung menghubungi Widodo. Bak gayung bersambut, Widodo pun sedang tidak ada kegiatan siang ini dan dapat menemaninya mengelilingi kota Paris. Andini segera bersiap menunggu Widodo mengetuk pintunya.
Sepanjang siang Andini menikmati perjalanannya dan makan siang dengan Widodo di sebuah resto. Andini tahu bahwa Widodo tertarik padanya. Sorot mata lelaki itu memberi sinyal demikian. Andini melirik suatu peluang. Ia mengajak lelaki itu ke galeri yang tadi pagi didatangi bersama suaminya. Dengan antusias Andini mencoba perhiasan yang disukainya pada leher jenjangnya yang putih mulus. Widodo begitu terpesona melihatnya dan dengan ringan ia merogoh koceknya membayar perhiasan tersebut.
”Terima kasih, Pak,” ujar Andini tertawa memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi. Widodo mengangguk dan menyentuh pipi Andini dengan tangan kanannya. Hasratnya tiba-tiba bergejolak dan ia berusaha menahannya. Yang terpikir hanya segera kembali ke kamar hotel dan memujuk wanita di depannya untuk singgah di kamarnya.
Semuanya dapat berjalan sesuai dengan harapan mereka. Andini akhirnya setuju mampir sebentar di kamar Widodo. Bagi Andini, memenuhi keinginan Widodo hanya sebagai ucapan terima kasih. Tidak lama, namun ternyata itu menjadi petaka baginya.
Keluar dari kamar Widodo ia kepergok suaminya. Pandangan curiga Darminto membuatnya gelagapan. Darminto langsung menarik istrinya ke kamar dan mengintrogasinya. Andini bersikukuh bahwa tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Widodo. Darminto tak percaya begitu saja. Ia menyuruh Andini membuka celana dalamnya dan langsung menunjukkan  flek yang ada disana adalah bukti perselingkuhannya. Akhirnya Andini menangis memohon ampun. Darminto demikian emosinya, apalagi alasannya hanya karena perhiasan yang baru dibelikannya. Alasan yang sangat naif. Darminto langsung menjatuhkan talaknya dan kemudian meninggalkan Andini yang sedang menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya.
Sesampainya di Jakarta, Darminto langsung mengantar Andini beserta segala belanjaannya ke kampung halaman perempuan itu. Darminto sudah tidak mau mendengar permohonan maafnya dan Andini hanya bisa pasrah menerima keputusan Darminto.
Selama beberapa hari ini, Darminto mulai memikirkan dirinya kembali. Kata-kata anak dan istrinya terngiang di telinganya. Ia merasa sudah mulai kehilangan nuraninya dan menjadi pengkhianat bangsa. Darminto yang terkenal jujur dan selalu menolong orang di sekitarnya sudah menjadi kanibal dengan mengisap darah dan keringat bangsanya yang menaruh kepercayaan di pundaknya. Ia merasa sangat berdosa. Apalagi dengan nyata ia telah mengkhianati istrinya yang selalu berusaha menjaga keselamatannya dunia akhirat. Ia menikah lagi tanpa sepengetahuan istrinya itu.
Jika membawa uang lebih ke rumah, Aini selalu bertanya asal uang tersebut. Bila halal, maka Aini menerimanya. Jadi hanya uang gaji yang akan diterima oleh istrinya itu. Uang yang tidak jelas asal dan tujuannya, tidak pernah mau Aini terima. Padahal begitu banyak dana yang mengalir ke rekeningnya dan ia sendiri tak tahu akan dipergunakan untuk apa uang sebanyak itu. Sejak ia menikahi Andini, perempuan itulah yang menikmati uang yang tak jelas asalnya tersebut.   
  Sesampainya di rumah, Darminto langsung memeluk Aini dan memohon maaf padanya. Ia menceritakan seluruh kecurangan yang dilakukannya terhadap keluarga dan bangsanya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat siksa Tuhan yang pedih bakal diterimanya.
”Tak ada manusia yang sempurna, Pa. Tuhan mengerti betul dengan makhluk ciptaannya. Mohon ampunlah pada-Nya dan perbaikilah kesalahan, Papa,” kata Aini dengan tenang dan ia telah lebih dahulu memaafkan kekhilafan suaminya itu.
”Makasih atas pengertianmu, Ma. Tapi bagaimana cara memperbaikinya tanpa membuat diri celaka?” tanya Darminto tertunduk lesu.
”Kembalikan uang yang tidak jelas itu pada negara. Mohon maaf pada masyarakat lewat media. Dan jika rekan merasa terganggu, letakkan saja jabatan itu,” demikianlah saran Aini yang membuat galau hati Darminto.
”Jika itu dilakukan, maka kemungkinan saya akan diproses dan paling mungkin selanjutnya saya mendekam di penjara. Huh....,” ujar Darminto pelan dan seperti suara keluhan panjang diakhir ucapannya.
” Kami akan terus mendampingimu, Pa. Lebih baik persoalan ini selesai di dunia, Pa agar tidak sampai ke akhirat. Insyaallah niat baik Papa yang mau berubah dapat diterima baik oleh masyarakat,” perkataan yang lemah lembut namun tegas dari Aini menguatkan hati Darminto.
Akhir cerita, Darminto mengalami proses yang panjang dan melelahkan. Namun hatinya tegar karena keluarga mendukungnya dan yang lebih mengharukan lagi, masyarakat banyak pun memberi dukungan baik lewat aksi demonstrasi maupun lewat media elektronik seperti twitter dan facebook. Darminto masih memilih mempertahankan nuraninya.

Rabu, 08 Juni 2011

KUINGIN CINTAMU, MA


Praaang…brak..gedubrak! suara gaduh itu berasal dari dapur. Amelia terperanjat dan segera berlari menuju asal suara. Dapur didapatinya dalam keadaan amat berantakan. Rajangan sayur memenuhi lantai, dan kardus mi instan yang biasanya tersusun rapi di dekat boks beras jatuh ke lantai dan isinya berserakan. Kompor gas terbiar dalam keadaan menyala tanpa ada yang terjerang di atasnya.
Amelia melangkah dengan tergesa-gesa mendekati kompor dengan niat mematikan api yang sedang menyala, takut apinya menyambar gorden yang berada tak jauh dari sana. Baru beberapa langkah kakinya bergerak, Amelia merasa sesuatu mencucuk telapak kakinya.
”Aduh!” jerit tertahan terlontar dari bibir Amelia.
Amelia segera mengangkat kakinya. Pecahan kaca terhujam di telapak kakinya. Ia segera mencabut pecahan kaca tersebut sambil menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan ngeri melihat darah mulai keluar dari luka yang ditimbulkan oleh pecahan kaca tersebut.
Amelia keluar dari dapur dengan tertatih menuju ruang makan tempat kotak P3K biasanya disimpan. Ia segera mengoleskan betadin dan mengambil hansaplas yang lebar buat menutup lukanya.
”L i aaaaaa...!” suara jeritan yang berasal dari ruang tengah.
Dengan terpincang-pincang Amelia menuju ke asal suara sambil menjawab, ”Iya, Ma,”
”Kemana saja kau? Nggak tau Mama lagi pusing ya? Bereskan dapur!” perintah ibunya yang terlihat marah.
Amelia mengangguk dan kemudian membalikkan badannya ke arah dapur. Ibunya menyusul, dan dengan ringan tangannya terangkat menjewer kuping Amelia.
”Lain kali, pulang sekolah langsung ke dapur. Jangan taunya makan aja. Masak! Itu harusnya yang kau lakukan sepulang sekolah. Kau sudah besar, jadi itu bukan tugas aku lagi. Tau?!” kata ibunya dan sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Amelia mengangguk dan ia meraih sapu. Rasa panas tamparan di pipinya harus ditahan jangan sampai tangannya mengelus pipi sebab itu akan menyebabkan tambahan satu tamparan lagi seperti yang biasa ibunya lakukan. Mungkin ibunya sedang ada masalah di kantor hingga terbawa ke rumah. Amelia berusaha memakluminya.
Amelia mulai menyapu lantai kemudian membereskan semua yang telah diberantakkan oleh ibunya. Selanjutnya ia membuat teplok telur dan goreng tahu untuk makan siang mereka.  Semua dikerjakannya dalam diam dan keheningan mulai terasa sebab ibunya sudah berhenti mengomel sejak tadi dan adik-adiknya pun tak berani keluar dari kamar mereka.
Amelia, gadis kecil yang berusia 14 tahun duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Parasnya manis dengan kulit kuning langsat. Di sekolah, Amelia termasuk anak yang pintar karena selalu meraih juara kelas tiap semesternya. Namun bawaannya yang pendiam dan cenderung menyendiri menyebabkan ia tak banyak memiliki teman. Dan, tidak seorang teman pun diizinkannya datang ke rumah karena Amelia takut ibunya marah.
Amelia memiliki dua orang adik laki-laki yang berusia tujuh dan sepuluh tahun. Kedua adiknya amat sayang dengan dirinya sebab Amelia selalu memperhatikan dan menolong mereka menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Bagi Amelia, adik-adiknya itulah yang dapat dijadikan teman bermain di rumah tanpa sangsi ibunya akan marah.
Orang tua Amelia keduanya bekerja di perusahaan swasta yang berbeda. Ayahnya hanya pegawai biasa yang gajinya tidak mencukupi untuk membiayai seluruh kebutuhan rumah tangga. Sebab itulah ibunya juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka.
 Berbeda dengan ayahnya yang sangat baik kepadanya, ibunya sering memperlakukan Amelia dengan sangat keras. Bagi Amelia, tiada hari tanpa didera oleh ibunya. Bukan hanya kata-kata yang kasar bahkan tamparan dan pukulan selalu diterimanya. Dimata ibunya, Amelia tak pernah benar dan tak bisa menyenangkan hatinya. Hal tersebut telah lama terjadi, setidaknya sejak Amelia sudah punya ingatan ketika ia berusia lima tahun. Yang mengherankan, terhadap kedua adiknya, ibunya sangat baik dan hampir tak pernah memarahi mereka.
Amelia berusaha mencari alasan dibalik perlakuan sang ibu terhadapnya. Jawaban yang diperoleh dari ayahnyalah yang selama ini menjadi dasar Amelia untuk menerima apapun perlakuan ibu terhadap dirinya.
”Mamamu sangat menderita ketika kecil dulu. Ketika melahirkanmu, ia juga mengalami histeria dan itu lebih dari dua tahun ia derita. Selain itu, kamu anak perempuan satu-satunya dan mamamu mengharapkan kamu jadi perempuan yang tangguh dan mampu menghadapi setiap persoalan yang timbul. Makanya didikannya terhadap dirimu agak keras,” begitu ayahnya menjelaskan. Jawaban itulah yang disimpannya selama bertahun-tahun walau Amelia tak pernah yakin itu alasan sebenarnya.
Pernah satu kali amelia bertanya langsung pada ibunya. Tanggapan yang didapatinya sangat mengejutkan. Ibunya menatap Amelia dengan tatapan tajam seperti akan membelah dirinya menjadi bagian-bagian kecil. Tak lama kemudian ibunya menangis tersedu-sedu. Dengan ragu Amelia mendekat dan memeluknya.
”Maaf, Ma. Kalau pertanyaan Lia membuat Mama merasa tak enak,” Amelia berkata lirih dan mempererat pelukannya.
Dalam pelukan Amelia, ibunya berujar lirih,”Maafkan Mama. Sungguh Mama tak bermaksud.....”
Hanya jawaban itu yang diperolehnya dari sumber pertama. Satu pertanyaan yang belum ditemukan jawaban pasti. Pertanyaan yang masih tersimpan di memorinya dan ia masih terus mencari jawab. Entah dimana jawaban akan ditemukannya.
”Liaaaaa.....,” teriakan yang selalu membuat Amelia berlari tergopoh-gopoh.
”Iya, Ma,” jawaban rutin yang harus diberikan Amelia sebelum kakinya sampai pada yang empunya panggilan.
”Masakan apa ini! Mana biasa aku memakannya. Gorengkan ikan asin dan buat sayur asem. Sekalian sambel terasinya,” perintah ibunya setengah memekik. Amelia hanya mengangguk dan segera melaksanakan perintah tersebut.
Sayur asem? Hmm, bahannya sudah habis diserakkan oleh ibunya tadi. Dari mana ia dapat memperoleh bahan tersebut? Ke warung, tak ada uang. Di halaman, bahannya tak komplit. Mau bertanya, takut. Amelia harus memeras otaknya untuk menemukan solusi tersebut. Akhirnya ia mengambil kembali sayur-mayur yang telah jadi penghuni tempat sampah dan mencucinya satu persatu potongan. Amelia berusaha melakukannya dengan secepat mungkin, sebab jika terlalu lama menyiapkannya maka ia akan berhadapan dengan amarah ibunya.
Setelah selesai menghidangkan menu makan siang, Amelia memanggil kedua adiknya dan menyuruh mereka makan. Tidak lama kemudian ibunya keluar dari kamar dan mendekati adik-adiknya. Kedua adiknya dipeluk oleh ibunya dari belakang dan ubun-ubun mereka mendapat satu kecupan.
”Cepat habiskan makanannya, sayang,” ujar ibunya dengan lembut.
Amelia tersenyum menyambut dan menarikkan kursi untuk diduduki ibunya. Ibunya mulai menyendokkan nasi ke piring yang berada dihadapannya. Ketika menyendok sayur asem, keningnya berkerut.
”Dari mana kau dapat sayur ini?” tanya ibunya.
”Yang berserak di lantai tadi, Lia cuci satu persatu,” jawab Amelia lugu.
”Apa!” ibunya berteriak,”Kau mau meracuni kami? Bukankan tadi ada pecahan kaca disana? Kau mau serpihan kaca itu termakan oleh kami agar kami sakit bahkan mati!?”
”Bukan begitu, Ma. Sayurnya sudah Lia cuci bersih satu persatu tadi. Dan...,” jawaban itu terhenti sebab tangan ibunya telah sampai di mulut Amelia. Sebuah tamparan yang keras.
Lia tak dapat menahan air matanya. Apalagi ketika ibunya menuangkan sayur itu ke lantai. Lia tak dapat berbuat apa-apa. Perutnya yang tadi perih menahan lapar kini rasanya mual. Tapi semuanya harus ditahannya agar ibunya tak semakin brutal. Ia segera mengambil pengepel lantai dan membersihkan tumpahan sayur tersebut.
”Selesai membereskan itu, angkat jemuran di atas. Jangan biarkan jadi kerupuk,”perintah ibunya benar-benar tak berperasaan.
Amelia berjalan dengan gontai menuju tangga. Kepalanya tertunduk dan hatinya benar-benar pilu menerima perlakuan ibunya. Sesampainya di lantai atas, Amelia dikejutkan oleh seseorang yang mengacungkan sebuah celurit ke arahnya.
”Diam atau pisau ini merobek perutmu!” perintah orang yang tak dikenal tersebut. Amelia menggigil dan membekap mulutnya dengan tangan sendiri.
Tiba-tiba dari arah pintu ibunya keluar dan orang itu beralih mengacungkan celurit pada ibunya. Ibunya menjerit dan orang itu kelihatan kalap. Amelia melihat gelagat yang benar-benar membahayakan ibunya. Amelia segera berlari memeluk ibunya dan orang yang kalap itu menikam punggungnya.
”Ah...,” keluh Amelia menahan rasa sakit dipunggungnya. Ibunya melepaskan pelukan dan bergerak mendekati orang tersebut. Orang yang tak dikenal itu makin panik dan berlari menuju pagar pembatas, namun sayang, Amelia yang dalam keadaan limbung tertabrak olehnya dan tak dapat dicegah lagi, tubuh kurus itu meluncur ke bawah, tak mampu ditahan oleh pagar pambatas.
Amelia masih sempat melihat orang itu merayap menuruni dinding dan setelah itu semuanya terlihat jauh dan hanya suara-suara yang tak dimengertinya yang terdengar. Ia masih merasakan dekapan ibunya dan masih mendengar samar jerit ibunya yang memanggil namanya.
”Kuingin cintamu, mama....,” bisikan yang amat lirih masih sempat Amelia ucapkan.
”Lia, Lia, maafkan Mama. Maafkan Mama,” tangis histeris ibunya terdengar pilu.
”Jawab pertanyaan Lia, Ma,” antara sadar dan tak sadar Lia masih juga berusaha untuk bicara.
”Mama menyalahkan mu. Karena kehadiranmu yang sama sekali tak dikehendaki, mama terpaksa menikah dengan papamu yang kere itu. Maafkan mama. Itu bukan salahmu. Tapi mama terlanjur menyalahkanmu. Lia, sadar, nak,” raungan ibunya makin jauh terdengar.
Amelia telah memperoleh jawaban atas satu pertanyaan yang selalu menganggunya sejak kecil. Ia tersenyum, puas, akhirnya pertanyaan itu berjawab. Sama sekali ia tidak pernah membenci ibunya. Cintanya pada ibunya sepanjang waktu hanya untuk menunggu jawaban yang dicarinya. Suara yang makin samar membuat Amelia memasrahkan dirinya pada sang pemilik alam.



Rabu, 01 Juni 2011

Mutiara Hati


Soni menjangkau Hp yang sejak tadi telah berbunyi beberapa kali menandakan ada SMS masuk. Matanya masih susah dibuka karena malam tadi ia tidur lewat tengah malam. Setelah mengucek mata beberapa kali ia menatap layar Hp, ada tiga pesan yang masuk.
Soni mulai membuka kotak pesan. Pesan pertama dari adiknya yang menanyakan kabar bunda mereka. Pesan berikutnya dari seorang teman yang isinya tidak begitu penting. Pesan terakhir dari Mutia.
’Masih lama ya ngambeknya, Son?’ demikian bunyi SMS dari Mutia.  Soni tersenyum dan pesan tersebut sengaja tidak dibalasnya agar Mutia semakin penasaran.
Sebulan belakangan ini Mutia selalu mengirim pesan singkat yang isinya hanya sekedar menanyakan kabar atau hal-hal yang kurang penting lainnya. Soni tidak pernah menjawab walau dihati ia ingin membalasnya bahkan teramat ingin menelpon. Hasrat hati tersebut dengan susah payah ditahannya.
Hingga hari ini, telah delapan bulan Soni tidak menghubungi Mutia melalui Hp. Biasanya setiap hari ia yang selalu menelpon hanya sekedar bertanya kabar. Mutia selalu menjawab sekenanya saja tanpa gairah sama sekali seolah segan bicara dengannya. Selalu demikian dan tak pernah seperti harapannya yang sangat menginginkan Mutia menjawab dengan antusias dan penuh perhatian terhadap dirinya.
Sejak hubungan dengan suaminya mulai bermasalah, Mutia beberapa kali curhat dengan Soni. Soni selalu berusaha menghibur Mutia dan menasehatinya agar bersabar menghadapi persoalan yang mendera rumah tangganya. Bagi Soni, walaupun ia begitu mencintai Mutia, namun kebahagiaan Mutia adalah nomor satu.  Ia sama sekali tak berharap banyak apalagi sampai menginginkan Mutia menjadi miliknya karena ia sadar Mutia telah menjadi milik orang lain.
Mutia adalah cintanya sejak SMA. Perasaan cinta yang selalu tersimpan apik di hati Soni dan hampir tak terusik oleh apapun. Perasaan cinta yang tak pernah berbalas sebab Mutia begitu dingin terhadap dirinya. Mutia hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.
Soni selalu memantau keberadaan Mutia. Ia dengan berbagai cara selalu bisa menemukan Mutia. Hingga pada masanya ia merasa sudah cukup umur untuk beristri, Soni membicarakan masalah tersebut dengan ayahnya.
”Ison mencintai seorang perempuan. Tapi hingga saat ini dia kelihatannya tidak pernah mencintai Ison. Apakah Ison harus berteguh mengajaknya untuk menjadi istri?” tanya Soni pada ayahnya ketika itu.
”Jika perempuan itu tidak mencintaimu, buat apa kamu memaksanya untuk menjadi istrimu. Lupakan saja dia. Carilah perempuan lain yang dapat melabuhkan cintanya padamu,” demikian jawab ayah Soni.
Soni dapat mengerti alasan yang dikemukakan oleh ayahnya. Perempuan yang akan dijadikan istri adalah perempuan yang dapat menerima dirinya apa adanya, rela memberikan seluruh waktu untuk melayani dirinya. Jika perempuan itu tidak mencintainya mustahil ia akan memperoleh pengabdian yang tulus dari seorang istri.
Akhirnya pilihan Soni jatuh pada seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan dan tanpa proses yang terlalu panjang ia mempersuntingnya. Namun nasib baik belum memihak padanya. Perkawinannya hanya bertahan kurang dari empat tahun dan akhirnya ia terpaksa menceraikan perempuan yang telah melahirkan dua orang anaknya. Perceraian itu sangat menyakitkan kedua belah pihak sehingga mantan istrinya membuat dinding pembatas yang hampir tak mungkin dilompatinya untuk bertemu apalagi berinteraksi dengan anak-anaknya.
Bertahun-tahun kesendiriannya, ia masih saja mencari Mutia yang ternyata telah bersuami pula. Sebesar apapun perasaan cintanya, sebesar apapun hasratnya terhadap Mutia, namun Soni selalu menaruh hormat pada perempuan itu. Tidak ada sedikit pun keinginannya untuk melecehkan Mutia dengan mengeluarkan kata-kata rayuan atau kata yang tidak pantas setiap kali mereka bicara di Hp.
Makin sering Soni bicara dengan Mutia, perasaan cintanya semakin mendalam. Apalagi ketika Mutia menceritakan bahwa bahteranya mulai oleng. Tumbuh sebentuk harapan di hati Soni, namun ia segera menepisnya. Satu sisi hatinya mengharapkan perceraian Mutia sebab dengan demikian ada harapan baginya untuk bersama. Sisi lain hatinya mengutuk keculasan niatnya yang mengharapkan keruntuhan rumah tangga orang yang amat dikasihinya. Akhirnya  Soni hanya mampu memberi nasehat agar Mutia senantiasa bersabar.
Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk berharap. Soni merasa lelah. Ia ingin lepas dari rasa cintanya yang tak mungkin berbalas. Ia memutuskan untuk pergi menjauh dari Mutia dan takkan pernah menghubunginya lagi.
Keputusan sudah Soni buat dan ia benar-benar tidak pernah lagi menghubungi Mutia walaupun melalui Hp. Jika Hp-nya berbunyi dan ia melihat nomor Mutia, maka ia menahan diri agar tidak menjawab panggilan tersebut. Bahkan SMS Mutia tidak pernah sekalipun dibalasnya.
Pagi ini, selesai sarapan, Hp Soni kembali berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk. Pesan dari Mutia. Pesan tersebut mulai dibacanya.
’Son, rumah tanggaku tak bisa dipertahankan lagi. Aku telah resmi bercerai dengan suamiku.  Akupun menyadari bahwa selama sebelas tahun aku berusaha mencintainya, namun tidak berhasil karena sesungguhnya ia pun tidak mencintai aku. Setahun setelah pernikahanku, aku baru menyadari bahwa sesungguhnya aku mencintaimu. Tapi hal itu sudah terlambat sebab masing-masing kita telah punya pasangan. Setelah delapan bulan kamu menghilang, akupun mulai pesimis, jangan-jangan kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Hari ini ulang tahunmu. Selamat ulang tahun Son, akupun harus tahu diri untuk pamit padamu.’ Sebuah pesan yang cukup panjang.
Soni terdiam di tempat duduknya. Selama dua puluh tiga tahun ia ingin tahu perasaan cinta Mutia terhadapnya, baru hari ini ia mengetahuinya. Hatinya serasa terbang, angannya melayang jauh menembus awan dan ia merasa sangat bahagia dengan pernyataan Mutia tersebut.
”Ternyata Mutia pun mencintaiku...,” desahnya dalam helaan nafas yang panjang.
Tanpa ragu Soni langsung mengemas pakaiannya dan ke bandara dengan harapan masih ada penerbangan ke Jakarta untuknya. Tuhan mengabulkan doa yang dipanjatkannya sepanjang perjalanan tadi. Ia mendapat penerbangan siang ini. Dan sore harinya Soni telah berada di dalam taksi menuju rumah Mutia.
Beberapa kali bel ditekannya, namun tak ada tanggapan. Soni berdiri dengan gelisah di beranda. Ia mencoba menelpon Mutia beberapa kali, namun tidak mendapat jawaban.
”Maaf mas,” tegur seorang ibu dari balik pagar rumah Mutia,”ibu Mutia di rumah sakit, ada kecelakaan beberapa jam yang lalu.”
”Apa?” Soni terkejut, ”Bagaimana keadaanya?”
”Parah sekali mas,” jawaban yang membuat jantung Soni serasa berhenti seketika.
Soni segera menanyakan alamat rumah sakit tersebut. Kemudian ia bergegas masuk kembali ke taksi yang masih menunggunya. Kemudian taksi melaju menuju rumah sakit yang dimaksud.
”Ya Tuhan... apa yang terjadi dengan Mutia. Lindungilah dia ya Allah,” desis Soni dan ia terus memanjatkan doa untuk orang yang sangat dicintainya itu. Hatinya begitu miris dan kegelisahannya semakin tak terkendali. Apakah ia masih sempat bertemu dengan Mutia?
Begitu memasuki rumah sakit, ia segera menuju ruang informasi.
”Saya mencari korban kecelakaan yang masuk pagi ini. Ibu Mutia,” kata Soni dengan nafas sedikit terengah karena ia berlari dari tempat taksi berhenti.
”Ibu Mutiara di ruang ICCU, lurus lorong ini terus belok kanan,” jawab petugas jaga. Soni langsung berlari menuju ruang yang dimaksud.
Sesampainya di depan pintu ruang ICCU, Soni berhenti sejenak mengatur nafasnya dan berusaha menenangkan hatinya. Seorang perawat keluar dari ruangan tersebut dan Soni meminta diizinkan masuk.
”Apa hubungan saudara dengan pasien? Pasien belum boleh diganggu, hanya boleh dilihat dari kaca pembatas” kata perawat tersebut.
”Saya abangnya, Sus. Saya mohon, izinkan saya,” jawab Soni sedikit memelas. Perawat meminta Soni mengenakan pakaian khusus dan kemudian mempersilahkannya masuk.
Soni melangkah pelan dan berusaha menguatkan hatinya. Ia melihat seseorang terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan berbagai peralatan medis terpasang di tubuhnya. Kepalanya terbalut perban sehingga wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas dari tempat soni berdiri, ”Bintang kecilku....,” lirih suara itu keluar dari bibir Soni, lebih menyerupai erangan. Ia ingin mendekat namun kaca pembatas itu menghalanginya.
Air mata Soni turun dan ia masih termangu menatap sosok yang terbaring tak berdaya itu. Ia tak mengerti mengapa Tuhan tidak merestui cintanya pada Mutia. Ketika harapannya hampir terwujud, ternyata Tuhan berkehendak lain.
”Son?” suara lembut yang amat dikenal Soni datang dari arah belakangnya. Soni terkesiap, ia segera membalikkan badannya. Matanya terbelalak, tak percaya melihat Mutia sekarang berdiri tepat di depannya.
”Mutia?” katanya ragu-ragu takut pikirannya salah karena terobsesi dengan bayangan Mutia.
”Iya, Son. Ini aku,” jawab Mutia sambil menyentuh lengan Soni.
Soni begitu terharu dan langsung memeluk erat Mutia. Hal yang belum pernah dilakukannya selama ini terhadap Mutia.
”Mutia, Mutia... aku mengira kamu yang berada di dalam,” kata Soni masih mendekap erat Mutia. Ia tak ingin melepaskan pelukannya, sangat takut kalau Mutia tiba-tiba raib dari sisinya.
Wajah Mutia memerah. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Soni. Soni merasakan gerakan Mutia, dan ia pun melepaskan pelukannya.
”Itu papanya Keyla. Key barusan dibawa ibuku pulang,” Mutia berujar sambil menunduk. Ia merasa malu namun jantungnya berdebar  kencang. Dan ia makin gelagapan ketika Soni menyentuh dagunya dengan jari telunjuk dan mengangkat wajahnya agar dapat terlihat dengan jelas oleh Soni.
Soni mengecup lembut keningnya dan membawanya dengan lembut ke dalam dekapan hangat. Mutia membiarkannya meskipun perasaan malu dan salah tingkah masih menguasai dirinya.
”Aku  tidak akan pernah membiarkanmu hilang lagi. Cukup sudah penantian panjangku selama ini, bintang kecilku, mutiara hatiku yang tetap berkilau hingga akhir zaman. Bila semua ini berlalu, maukah kamu menikah denganku, Mutiara?” ujar Soni tanpa ragu lagi, ia begitu yakin dengan keputusannya sekarang ini. Sebuah cinta memang selayaknya diperjuangkan bukan dibiarkan merana hanya karena merasa cinta tak berbalas.
Mutia tak sanggup berkata-kata, namun dalam dekapan yang hangat ia mengangguk pelan. Dan bagi Soni itu adalah jawaban yang selama ini didambakannya.
  
1 juni ’11
Bingkisan khusus tuk temanku Khai

Sabtu, 21 Mei 2011

BIAS KASIH


“Aku pergi dulu, Ma. Masak yang enak nanti ya. Aku pulang cepat hari ini. Kamu masih cuti kan?” katanya sambil mengecup keningku.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Aku mengiringinya hingga keluar pintu rumah dan melepaskannya dengan pandangan jengah. Kemudian aku menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangan ke dalam rumah. Keadaan rumah seperti kapal pecah. Tisyu bekas berserakan di lantai. Pakaian bekas pakai menumpuk di salah satu sudut ruangan. Aku segera bergerak membereskannya.
Setelah kondisi rumah yang sembrawut berhasil ku rapikan, kini aku merambah ke dapur. Aku membuka kulkas dan melihat persedian apa saja yang ada disana. ”Hmm... sayur asem, ikan asin, tahu goreng, sambel terasi.... lumayan,” gumamku.
Semua ku kerjakan dengan penuh semangat. Aku ingin menyenangkan hatinya yang telah rela memberi naungan dan melindungiku. Aku, dengan segala kemalangan nasib membawaku kepadanya.
Inilah kisahku.
Aku pernah menikah tiga kali. Kegagalanku membina rumah tangga membuatku jadi gamang menjalani hidup ini. Selalu saja ada laki-laki yang berusaha mendekatiku setelah perceraian. Namun kegagalan membuatku berpikir ribuan kali untuk menjalin hubungan yang serius.
Mantan suamiku yang pertama pergi meninggalkanku sehari setelah kami menikah. Setelah malam pertama kami, ia hanya bertanya lirih, ”Dengan siapa kamu pernah melakukannya?” Aku hanya menatapnya tidak mengerti sebab aku yang berusia 14 tahun masih lugu tidak memahami maksud perkataannya tersebut. Setelah itu ia pergi dan tak pernah kembali lagi.
Setelah makin dewasa baru aku mengerti maksud pertanyaan tersebut. Ia menuduhku telah berhubungan dengan lelaki lain sebelum menikah. Ia tidak mendapati selaput daraku yang berdarah. Alangkah piciknya ia. Padahal belum pernah sekalipun aku melakukan hal itu selain pada malam pertama dengannya. Jika selaput daraku ternyata sudah robek sebelumnya, mana aku tahu disebabkan oleh apa. Bisa jadi disebabkan tungganganku setiap hari sepeda ontel bapakku untuk membawa kayu bakar buat dijual di pasar yang jaraknya 20 kilo meter dari rumah.
Memasuki usia 19 tahun seorang laki-laki yang kelihatannya begitu penyayang melamarku. Meskipun beda usia kami 15 tahun, namun aku bersedia menjadi istrinya. Pada awalnya ia memang sangat memperhatikanku bahkan pada hal-hal yang paling kecil sekali pun. Tengah malam aku terbangun sambil mengeluh haus, ia langsung bangun dan mengambilkan segelas air untukku. Aku diperlakukan seperti ratu. Aku sangat tersanjung kala itu.
Tubuhku makin gemuk sebab sehari-hari aku hanya memuaskan nafsu makanku. Semuanya sudah disediakan oleh pembantu yang berjumlah 10 orang. Taman yang luas menjadi tempatku menyenangkan diri menikmati bermacam-macam kembang yang tumbuh dan terawat dengan baik. Bagi orang yang melihat, aku seperti hidup di surga. Namun tidak demikian yang kurasakan. Aku merasa hidup di sangkar emas. Badanku terkurung namun hatiku mengembara ke negeri antah berantah yang semuanya berada dalam khayalku.
Jika aku ingin ke luar, maka suamiku akan mengerahkan sebagian pembantu menemaniku dan sadarlah aku bahwa tidak ada kebebasan untukku lagi. Aku mulai mengajukan protes pada suamiku. Namun hal itu tak pernah ditanggapinya. Ia hanya tersenyum tenang mendengar keluhan bahkan protes dengan nada keras dariku. Dalam pandanganku saat itu, suamiku adalah orang yang tak punya perasaan sama sekali.
Aku mulai merana. Aku berontak, namun tak berdaya. Kekuasaan suamiku demikian besarnya hingga aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hampir tak menyentuh makanan sebagai reaksi dari sikapnya yang tak berperasaan. Tubuhku kembali langsing namun aku selalu merawatnya dengan perawatan kelas satu.
Masuk tahun kesepuluh pernikahan keduaku, aku belum juga diberi kesempatan menjadi seorang ibu. Aku mulai bertanya-tanya siapa diantara kami yang bermasalah pada kesuburan. Namun suamiku tak pernah mau membahasnya. Aku mulai mencurigainya. Jangan-jangan dia bermasalah pada organ reproduksinya.
Suatu hari, disebabkan kebosanan yang memuncak, aku diam-diam pergi ke mal sendirian dengan menaiki taksi. Aku berjalan sendiri dan bertemu dengan seorang teman dari kampungku. Dia menyapaku ramah. Dengan keterbatasan ingatanku, ia menerangkan siapa dirinya sehingga aku dapat mengingatnya kembali.
”Kamu kelihatan tidak bahagia, mana suamimu? Kok kamu pergi sendirian?” ia mengajukan sebuah pertanyaan yang tepat sekali pada sasarannya.
”Apa  aku kelihatan tak bahagia olehmu?” aku balik bertanya.
”Iya. Kamu terlihat murung dan sorot matamu seperti kesepian. Bahagiakah tampilanmu yang seperti itu?” ia mengamatiku dengan sorot mata menyelidik.
 Aku hanya tersenyum, tidak ingin menjawab pertanyaannya. Selanjutnya kami hanya membicarakan tentang kehidupan kami waktu di kampung dulu. Asyiknya bercerita menyebabkan aku lupa waktu dan entah dari mana tiba-tiba suamiku muncul di hadapanku. Dengan tenangnya ia mengajakku pulang dan dengan senyum misterinya ia pamit pada temanku.
”Jadi itu kerjamu ya? Menghilang diam-diam untuk bertemu dengan laki-laki lain. Apa tidak cukup perhatianku selama ini padamu hingga kamu masih mencari laki-laki lain?” tanya suamiku dengan dingin dan tatapannya, ya Tuhan, begitu dinginnya hingga aku menggigil hampir hypotermia.
”Aku baru bertemu dengannya. Ia temanku di kampung dulu. Dan baru ini aku begitu ingin keluar sendiri tanpa dikawal oleh penjaga,” jawabku dengan mengumpulkan segenap keberanian.
”Sekali katamu? Maaf, aku tak percaya. Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tak percaya. Mana ku tau kalau baru sekali. Mungkin di belakangku kamu sudah sering melakukannya. Jika kamu benar-benar ingin bebas, maka hari ini aku membebaskanmu dengan talak satu,” lembut kata-katanya namun seperti bunyi petir yang demikian kerasnya membuatku terkejut dan tak mampu berkata-kata. Aku terperangah. Semudah itu putusnya ikatan yang telah terjalin selama sepuluh tahun. Ternyata kami hanya menjalin benang rapuh. Dan dengan kepahitan aku menerima keputusannya tanpa diberi kesempatan untuk membela diri sedikit pun.
 Setelah itu aku mulai ragu menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Wajahku yang katanya sangat cantik menyebabkan banyak laki-laki yang datang bahkan tak sedikit langsung melamarku. Tapi aku masih tak percaya dengan kesungguhan mereka untuk menikahiku. Entah mengapa akhirnya hatiku tertambat pada seorang pengangguran berbadan kekar yang sering lewat di depan rumah. Itulah cinta. Tidak tahu akan tumbuh dimana.
Dengan suamiku yang ketiga, aku menghadapi situasi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Aku terpaksa bekerja untuk membiayai hidup kami. Dengan modal tampang yang kumiliki aku cukup mudah mendapat pekerjaan, apalagi selama menjadi istri mas Royan, suami keduaku, aku dibekalinya dengan berbagai kursus dan tingkat pendidikanku diperbaikinya dengan mengikuti ujian persamaan paket B dan C. Hingga akhirnya akupun dapat menamatkan kuliah.
Namun suami ketigaku selain pengangguran ternyata punya kegemaran berjudi. Jika ia kalah di meja judi maka kekesalan hati dilampiaskannya padaku. Aku harus mampu menahan pukulan dan tendangannya. Tidak jarang hingga aku jatuh tersungkur. Rumah dan segala perhiasan yang diberikan suami keduaku ludes di meja judi. Akhirnya kami mengontrak sebuah rumah kecil di pinggiran kota.
Aku bertetangga dengan Ipa yang hidup berdua dengan keponakan perempuannya. Ia sangat memperhatikanku. Jika pagi hari aku keluar dengan memar di wajah, maka ia memanggilku kemudian mengompres lebam tersebut dan untuk menyamarkannya aku diberi riasan khusus sehingga orang kantor tidak pernah tahu siksaan yang aku alami. Hanya pada Ipa aku berkeluh kesah tentang penderitaanku.
Ketika aku mulai hamil, aku berharap suamiku akan menjadi sadar bahwa ia akan segera menjadi seorang ayah dan sekaligus memiliki tanggung jawab yang besar terhadap diriku dan janinku. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Suatu malam, di tengah hujan deras, ia menyeretku keluar dari rumah karena kejengkelannya terhadapku yang menolak tidur dengan teman judinya. Aku dipertaruhkan di meja judi. Aku merasa sangat terhina.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dan berteriak-teriak, ”Ceraikan aku. Ternyata kamu bukan manusia!”
Aku bersimpuh, membiarkan hujan deras mengguyur tubuhku. Aku menggigil menahan rasa sakit yang amat sangat diseluruh tubuhku dan darah mengalir dari selengkanganku. Aku sadar, aku telah kehilangan janinku. Aku keguguran.
Aku bersidekap dan memanjatkan doa dalam isak tangis yang pilu,”Tuhan, dengan tak satupun yang kumiliki, aku menghadap Mu. Kumohon belas kasihan Mu atas diriku yang tengah didera sakit dan siksa. Tuhanku, sesungguhnya sakit hanyalah rasa dan siksa hanyalah derita. Hilangkan itu semua dari diriku agar aku dapat berdiri dan berjalan sesuai dengan perintah Mu.”
Sebelum kesadaranku hilang, aku masih merasakan seseorang memanggilku, ”Emaaa....,” lalu ia mendekapku dan berusaha menggendongku dipunggungnya. Berikutnya yang kutahu, aku dirawat berhari-hari di rumah Ipa tetangga sebelah yang selama ini selalu membantuku menghadapi berbagai persoalan hidup. Ia begitu perhatian dan melayaniku dengan penuh kasih sayang. Aku sangat berterima kasih padanya.
Selama proses perceraianku berlangsung aku menumpang di kontrakan Ipa. Setelah kesehatanku pulih, aku kembali masuk kerja dan rutinitas itu kujalani setiap hari kecuali minggu atau hari libur. Ipa selalu menghibur dan meyakinkan diriku bahwa aku dapat hidup bahagia meskipun tidak bersuami.
Ia kerap memelukku dan pelukan itu mampu menenangkanku. Kadang-kadang saat aku gelisah, ia tanpa ragu merengkuhku dan mengecup ubun-ubunku. Aku membiarkannya melakukan itu sebagai ungkapan rasa simpati padaku. Rasa aman dan terlindungi mengalir dalam diriku. Rasa yang kuat dan makin lama makin kuat, sehingga aku ragu, apakah aku telah jatuh cinta padanya.
Kami tidur dalam satu kamar, sementara keponakannya tidur di kamar belakang. Tidak jarang kami berpelukan ketika akan tidur. Ia membelai rambutku yang panjang dan aku menikmatinya sebelum aku benar-benar terlena.
Hari demi hari kemesraan kami makin bertambah. Ia tak pernah ragu-ragu lagi memelukku dan bahkan menciumku. Apalagi sejak keponakannya tidak tinggal serumah dengan kami. Entah kegilaan seperti apa yang kami lakukan. Tapi aku benar-benar merasa bahagia dan mungkin dia lah pelabuhan terakhirku, mesti mustahil dengan ikatan resmi.
Jam 12 lewat 10 ia pulang dengan membawa sebuah bingkisan. Aku menyambutnya dengan senyum termanis. Ia bergegas masuk rumah, mengatupkan pintu dan kemudian memelukku erat. Aku terkejut namun membalas pelukannya dengan hangat.
”Ada apa, Pa? Kok tumben, lain dari biasanya,” tanyaku setelah ia merenggangkan pelukan.
”Aku ingin bertanya serius padamu. Jawab dengan jujur. Bahagiakah kamu hidup bersamaku?” matanya menatap mataku dengan lembut dan senyum nakal menghiasi bibirnya.
Aku berpikir sejenak dan kemudian aku menjawabnya,”Iya, aku bahagia bersamamu. Bahkan ingin rasanya selamanya bersamamu.”
Kemudian ia kembali menarikku dalam pelukannya. Aku merebahkan kepalaku ke dadanya yang bergerak naik turun dengan teratur. Aku mendengar irama jantungnya yang semakin berdegup kencang.
”Aku membelikan sesuatu untukmu. Mudah-mudahan kamu menyukainya” lalu ia melepaskan pelukannya dan menyerahkan kemasan terbungkus rapi yang dibawanya tadi.
Aku membuka bungkusan itu dan kudapati isinya gaun malam yang amat cantik berwarna merah tua sangat kontras dengan kulit putihku. Aku langsung mengenakannya. Ketika aku tampil di depannya ia berguman pelan namun masih tertangkap di pendengaranku, ”Kamu memang cantik sekali. Rugilah orang-orang yang telah menyia-nyiakanmu.”  
”Terima kasih, aku sangat menyukainya,” ujarku dengan mata berkaca-kaca. Kutahan air mata yang hampir jatuh di pipiku.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celana, lalu membukanya. Sebuah cincin mungil yang sederhana namun berkilau dikeluarkan dan langsung dikenakannya di jari manisku. Kali ini aku yang memeluk erat dirinya. Aku begitu terharu.
”Andai saja kita bisa menikah, maka akan ku nikahi dirimu segera. Namun, takdir menentukan lain. Hal itu mustahil terwujud. Aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku. Aku mencintaimu seperti cinta seorang lelaki yang sedang kasmaran. Aku akan melindungimu dan akan menjagamu seumur hidupku. Apakah itu cukup bagimu?” pertanyaan yang membuat air mataku tak bisa ku bendung lagi.
”Aku juga sangat mencintaimu. Aku menerimamu apa adanya. Bagiku, cukuplah apa yang dapat kamu berikan. Aku tidak menuntut lebih dari itu. Perkawinan hanya sebuah ikatan yang sewaktu-waktu dapat putus. Tapi kasih sayang seperti ini takkan mudah memutuskannya,” jawabku disela isak tangis.
Kami saling berpelukan dan ia pun ikut menitikkan air matanya. Kami menyadari bahwa secara fisik kami adalah sejenis dan hal mustahil untuk bicara cinta lebih jauh dari sebuah harapan yang takkan mungkin terwujud. Bersamanya aku temukan kedamaian, dan bagiku itu telah lebih dari cukup.

Senin, 09 Mei 2011

SELAMAT JALAN KASIH


Malam semakin kelam. Rembulan sembunyi di balik awan, kadang mengintip malu-malu namun bersembunyi kembali. Waktu yang terus berlalu menyebabkan malam makin larut dan kesunyian makin terasa. Keheningan yang mencekam bersanding dengan kegelapan mencuatkan kegelisahan yang kian mendalam. Gitar yang sejak tadi menemaniku, ku sandarkan ke dinding karena mulai terasa berat dalam pangkuan.
Aku termangu, masih enggan meninggalkan tempat duduk yang telah empat jam lebih menyangga bokongku. Sudah panas rasanya. Tapi aku tak peduli. Dengan pemilik warung aku mengatakan akan bergadang di tempat ini, dan aku sudah mengantongi izin untuk itu.
Ini rokok terakhir yang kusulut dari bungkus kedua sejak sore. Sejak tadi mulutku sudah seperti sepur tua yang mengeluarkan asap tiap sebentar. Kadang-kadang aku mempermainkannya dengan membentuk bulatan-bulatan yang bergulung-gulung. Sekali-sekali aku menepisnya membuyarkan gulungan asap tersebut.
Kegelisahan merambat pelan ke hatiku. Aku tidak tahu dari mana datangnya perasaan itu. Tapi makin lama, perasaan itu makin menyesakkan dadaku. Aku segera mematikan puntung yang masih tinggal setengah, mengira itu penyebab sesak yang tiba-tiba kurasakan. Namun itu juga tidak membuat dadaku lapang. Perasaan gelisah ini sebenarnya telah hadir sejak tadi. Aku berusaha merintanginya dengan main gitar. Lewat tengah malam kegelisahan itu makin menjadi.
”Aguuuus...,” suara lirih panjang yang sangat pelan nyaris seperti berbisik di telingaku.
Refleks aku menoleh ke kiri asal suara tersebut. Sekelebat bayangan bergerak cepat dan kemudian berdiri tepat dihadapanku, hanya beberapa langkah dari tempat dudukku. Makin lama bayangan itu makin jelas.
“Aku minta maaf…,” suaranya demikian pilu dan raut wajahnya terlihat sendu.
”Kirana? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah apa-apa padaku,” jawabku dengan debaran aneh di dada. Berikutnya, tenggorokanku rasa tersumbat batu sebesar kepalan tangan.
”Aku hanya ingin mendengar kata maaf dari bibirmu. Maafkan aku yang telah mengusik ketenteraman hatimu,” kata-kata yang keluar dari bibirnya makin lirih dan terdengar makin jauh. Aku tak sanggup menjawabnya.
Makin lama bayangan itu kian memudar dan tatapan matanya semakin kosong, tak bercahaya seperti hampir padam pelita kehidupannya.
”Agus..,” bisiknya lirih,”rasa sayang padamu ku bawa sampai mati...,” itulah kata terakhir yang kudengar sebelum bayangan itu benar-benar hilang dari pandangan.
Aku tersadar dari ketersimaanku. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Tak ku temukan bayangan tadi dalam siluet subuh yang telah menjelang.
”Ternyata hanya mimpi,” batinku menengahi ketakjubanku pada peristiwa yang baru kualami. Aku yakin, aku tertidur sekejap tadi. Walau aku masih ragu apakah benar demikian, namun itulah jawaban untuk menenteramkan hatiku.
KIRANA adalah nama yang mengusik hatiku beberapa bulan belakangan ini. Nama yang sempat menghiasi hari-hariku dengan cinta kasih yang membuai dan melambungkan angan jauh menembus langit biru.
Kirana yang selalu kuimpikan dan yang mampu menggugah hasrat hatiku. Yang selalu membuaiku dengan tutur kata manis nan memabukkan. Yang selalu tampil bersahaja namun sangat anggun dan pancaran kasih sayangnya mampu melembutkan kekerasan hatiku, mampu meluluhkan kecongkakanku.
Namun Kirana adalah Kirana yang tidak mungkin dapat kumiliki meskipun segala puja dan puji ku tujukan padanya. Kirana adalah sosok impian yang telah menjadi milik orang lain dan dengan segala santunnya ia begitu mengabdi pada suaminya.
Hubungan kami tidak lebih dari barisan dialog yang terus-menerus muncul dan bersahut-sahutan di Hpku. Perhatiannya, kata-katanya yang begitu indah seperti berpuisi menyentuh hati dan perasaanku. Aku selalu berkhayal andai dia benar-benar menjadi kekasihku.
Dari awal Kirana telah mengingatkan kalau hubungan kami hanya sebatas pertemanan biasa yang akan dibumbui kemesraan sebab ia memiliki misi tertentu. Aku tidak lupa namun perasaanku tak bisa berdusta. Seiring berjalannya waktu perasaan cinta makin membuncah dan sangat sulit ku tahan.
Nalarku kadang tidak bekerja dengan baik. Dan aku lupa kalau ia telah menjadi milik orang lain. Tanpa kusadari sepenuhnya aku sangat menikmati hubungan yang terbentuk sebagai sebuah sensasi yang maha dahsyat. Namun, suatu ketika arus kesadaran kembali mengingatkanku akan hakekat sebenarnya.
Aku ingin bebas dari belenggu asmara yang membuatku bahagia sekaligus merana. Jika aku masih berhubungan dengannya melalui media pesan elektronik  aku semakin kacau, maka aku putuskan untuk melepaskan diri dari kontak dengan mengganti kartu ponsel dan menghapus akun facebook atas namaku. Aku akan hilang kontak dengan seluruh temanku, tapi biarlah bila itu lebih baik. Lagi pula hanya untuk sementara, sampai aku mampu mengontrol hatiku. Bila semua telah kembali sesuai pada tempatnya maka aku akan mencari mereka kembali.
Hari-hari selanjutnya aku berteman dengan sepi, untung ada gitar yang dengan setia menemani malamku. Namun kerinduan tetap saja mendera dan sekuat tenaga aku menahannya.
Sebulan yang lalu ketika kartu lama ku aktifkan untuk menghubungi sahabatku di Jakarta sebuah sms masuk dan isinya sangat mengejutkan hatiku.
’ternyata aku terkena kanker stadium 4,’ singkat bunyi pesan itu tapi rasanya seperti petir di tengah hari terik. Pesan singkat itu dikirim 8 jam sebelumnya, berarti sekitar tengah malam. Ada dorongan besar dalam jiwaku yang mendesak untuk menemuinya. Hati kecilku menyanggah sebab saat itu entah mengapa kerinduanku memuncak dan hal tersebut mempengaruhi benteng pertahanan yang sudah kubangun sejak memutuskan akan melupakannya. Jika aku menemuinya maka rasa cinta yang kupendam akan kembali menyeruak ke permukaan dan aku tidak akan mampu menutupinya lagi.
Bayangan yang hadir menjelang subuh tadi menyisakan kegelisahan panjang. Setelah mandi dan sarapan, aku mengaktifkan Hp dan sebuah pesan masuk. Ternyata dari sahabatku. Aku segera membukanya.
’Jika kamu tak ingin menyesal seumur hidup, segera ke alamat ini...’ demikian isi pesan itu. Pesan yang misterius dan benar-benar membuat kepalaku berdenyut.
Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, perasaan semakin tak karuan. Jika itu tak penting sekali, tidak mungkin sahabatku mengirim pesan singkat yang bernada mendesak begitu. Alamat itu asing bagiku, tapi aku dapat mencarinya.
Dengan rasa penasaran yang luar biasa akhirnya kutemukan alamat yang dimaksud. Sebuah rumah besar berhalaman luas dan begitu banyak orang yang berkumpul disana.
”Hmm, rumah siapa ini?” bisikku, bicara pada diri sendiri.
Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru, berharap menemukan orang yang ku kenal. Semuanya asing bagiku. Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku terkejut dan segera membalikkan badan.
”Rudi?” tanyaku keheranan melihat sahabatku berada disini.”Kapan datang? Ini rumah keluargamu?”
”Aku berangkat dengan pesawat malam tadi. Sampai tengah malam,” jawab sahabatku. Ia menuntunku masuk ke dalam rumah lewat beranda samping. Bau khas tercium olehku. Wewangian yang membuat perasaanku semakin tak enak.
”Ada apa, Rud? Ini seperti suasana kematian. Siapa yang meninggal?” tanyaku setelah sampai di suatu ruangan yang luas.
Rudi menunjuk ke tengah ruangan. Mataku mengikuti arah yang ditunjuk. Di tengah ruangan itu, begitu jelas ada sesosok mayat yang tebujur kaku ditutupi kain batik. Beberapa orang duduk di sampingnya.
”Demi Tuhan, Rud. Itu siapa?” tanyaku sambil mencengkeram bahu kirinya. Tiba-tiba kepanikan menjalari jiwaku.
”Itu Kirana, Gus. Ia pergi menjelang subuh tadi. Kanker telah merenggutnya dari kita. Ia hanya mampu bertahan sebulan saja,” jawaban sahabatku itu membuat seluruh tubuhku bergetar. Kakiku menjadi berat untuk dilangkahkan.
Rudi menuntunku hingga sampai di sisi mayat yang terbujur kaku itu. Kain penutup wajah yang berupa selendang tipis disingkapkannya. Dan aku menatap wajah pucat pasi yang diam dengan mata terpejam dan bibir seperti tersenyum. Ia seperti tertidur saja layaknya.
Aku tak tau harus mengapa. Jiwaku seperti ikut hilang bersamanya. Seseorang menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku melihatnya.
”Mas, maaf, aku tidak tau kalau Kirana sakit,”terbata-bata aku mengucapkan kata itu pada suaminya. Ia mengangguk dan menyerahkan amplop itu ke tanganku.
”Sebelum ia pergi, ia mengatakan ingin mendengar kata maaf dari bibirmu. Paling tidak begitulah igauannya,” kata Andrian ,”Sekarang dihadapanku, tolong ucapkan.”
Aku mengalihkan pandangan ke wajah yang sudah tak bercahaya itu,”Aku memaafkanmu, Kirana. Aku memaafkanmu....,” tak terasa air mata mulai turun mengalir di pipiku. Andrian menepuk-nepuk bahuku dan meninggalkanku sendirian. Rudi pun ikut meninggalkanku. Mataku tak lepas dari wajah pucat pasi itu.
Begitu ingin aku mengecup dahinya sebagai ucapan maaf dan sesalku. Tapi demi kepatutan dan keangungan namanya aku menahan diri dan jari jemariku menyentuh wajahnya sebagai pengganti keinginanku. Wajah yang tidak hanya pasi namun sudah dingin lali. ”Selamat jalan kasih...” bisikku sangat pelan dan setelah itu aku menyeka air mata yang tiba-tiba menderas mengalir di pipiku. Air mata langka yang hampir tak pernah aku keluarkan seumur hidupku. Kali ini tanpa dapat kutahan ia turun seperti hujan.
Setelah prosesi berakhir.
Surat yang sejak tadi ku pegang, mulai kubuka dan kubaca.

”Agus, teman baikku,
Aku menyadari umurku sedang dikejar waktu. Bila sampai waktu ku, ku ingin kamu tau bahwa aku menyayangimu sama seperti dengan yang lainnya, tiada kubedakan. Jangan pernah mengukur cinta dan kasih sayangku, karena cintaku sedalam samudera dan kasih sayangku seluas angkasa.”

Singkat surat itu, namun aku merasa bernaung di bawah cinta kasih seorang Kirana. Selamat jalan Kirana....

Minggu, 08 Mei 2011

KUPU KUPU HITAM


     Seekor kupu-kupu besar berwarna hitam berbintik merah terbang menebar pesonanya di tamanku. Ia hinggap di kembang soka kuning menjadikan warna hitam sayapnya demikian menarik. Disaat aku ingin meraihnya ia hinggap di dadaku, tepat di bagian jantungku berdetak.
     Aku terpana melihatnya begitu dekat sekali dengan diriku. Kupu-kupu hitam besar yang sangat menarik tak terusik oleh gerakan dadaku naik turun menikmati sensasi keindahan dan pesona kehadirannya menghiasi dadaku untuk beberapa saat. Aku ingin meraihnya, namun ia terbang dengan bebasnya, mengepakkan sayap perlahan meninggalkanku dan kemudian hinggap di mawar merah yang penuh duri. Aku menatapnya dengan sedih yang termat dalam. Cemas sayapnya yang indah kan robek oleh duri.
     Aku berusaha menjangkaunya namun tanganku terluka torehan duri mawar. Ia terkejut dan kemudian terbang makin jauh meninggalkanku. Aku hanya dapat menatapnya dengan kepedihan dan kepiluan tanpa mampu mengejarnya karena kakiku terpatri di kursi roda yang akhir-akhir ini menjadi sangga hidupku.
     Hatiku menangis, namun aku merelakannya pergi, "Pergilah, terbang dengan bebas kupu-kupuku sayang. Kepakkanlah sayapmu hingga kau merasa lelah. Terbanglah kemana kau suka. Aku akan tetap menunggumu."
     Disini, di atas kursi roda ini aku mengharap suatu saat kau akan kembali walau hanya sekedar menyapaku, "Selamat pagi, Cinta.”
(catatan khusus tuk adikku, Kinanty)

Jumat, 06 Mei 2011

ISTRI POLITIK




Petra menebarkan senyum ke seluruh masyarakat yang sejak tadi mengelu-elukan kedatangannya beserta suaminya yang telah dua periode menjadi pejabat daerah. Kepada orang-orang yang mengulurkan tangan sebisanya ia membalas menjabat tangan mereka atau sekurang-kurangnya menyentuh dengan tangan. Agar tidak mengecewakan yang lainnya, ia melambaikan tangan ke arah mereka.
Para ajudan suaminya dan pihak kepolisian berusaha melapangkan jalan dengan mengarahkan masyarakat untuk membentuk barisan di sisi jalan yang akan dilalui oleh dirinya beserta rombongan. Petra masih harus terus menarik kedua sudut bibir ke atas untuk memberi kesan senyum walau dihatinya ada perasaan jenuh dengan mimik wajah yang harus ditampilkannya, rona senyum yang menawan.
”Uf...,” Petra menghembuskan nafas dengan keras setelah ia berhasil masuk ke mobil yang tak lama kemudian disusul oleh suaminya.
”Acara kali ini cukup sukses. Lihat antusias masyarakat menyambut kamu tadi,” kata suaminya sambil mengulurkan tangan,”selamat, ya.”
”Makasih,” jawab Petra singkat dan ia menyambut tangan suaminya dengan acuh tak acuh.
Beberapa ratus meter berikutnya, mobil tersebut berhenti. Suaminya keluar dan pindah ke mobil lainnya.
”Sampai ketemu besok. Ingat, perlihatkan semangatmu dan tampakkan bahwa kamu bisa jadi pemimpin yang baik bagi mereka,” demikian kata sang suami sebelum meninggalkannya berdua dengan supir.
Petra mengangguk dan menatap punggung suaminya dengan pandangan hampa seolah menatap kepergian orang yang tak dikenal. Mobil suaminya meluncur lebih dahulu, barulah kendaraan yang ditumpanginya bergerak perlahan.
”Pak, jangan pulang dulu. Kita keliling-keliling saja,” perintah Petra pada supir. Sang supir mengikuti perintah majikannya seolah telah paham apa yang diinginkan.
Petra memandang kosong ke luar. Kehampaan mengisi ruang hatinya. Lakon yang harus dijalaninya terasa begitu berat dan amat menyiksa. Hampir tiap malam ia harus menghapal dialog dan melatih ekspresi wajah agar dapat tampil prima di atas panggung. Ia sedang memainkan lakon politik dan peran utama yang diperolehnya berkat dukungan penuh dari sutradara yaitu suaminya.
Agenda hariannya padat. Petra disibukkan dengan berbagai acara dalam rangka menjual diri kepada publik agar ambisi sutradara untuk menjadikannya orang nomor satu di daerah ini terwujud. Pagi hari sosialisasi, siang hari makan bersama ibu-ibu PKK atau majelis ta’lim, sore hari menyalurkan bantuan ke daerah-daerah miskin. Ia benar-benar tak ada waktu untuk dirinya sendiri, malam pun harus diisi dengan latihan adegan yang akan dilakoni keesokan harinya.
Hari demi hari Petra lalui dengan perasaan tertekan dan siksaan batin yang demikian kuat menghimpitnya. Kadang ia ragu apakah menjadi orang nomor satu itu benar impiannya atau hanya sekedar pelarian kecewa hati. Meskipun orang-orang terdekatnya mendukung niat tersebut, namun jauh di lubuk hatinya bukan itu yang dicarinya. Ia mencari yang sangat dicintainya dan telah bertahun-tahun hilang yaitu suaminya.
Meskipun mereka masih terikat tali perkawinan, namun semua itu hanya simbolis. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari mereka hampir tak pernah bersama. Jika akhir-akhir ini bersama, itu disebabkan dukungan untuk menjadi orang nomor satu, bukan sebagai suami yang mengayominya, menjaga dan menyayanginya.
Sejak jadi pejabat daerah, suaminya menjadi sangat sibuk. Hampir tak ada waktu di rumah. Tiap minggu ada saja acara ke luar kota. Jika kembali dari berbagai kegiatan, suaminya tidak langsung pulang menemuinya. Suaminya mampir dulu ke tempat istri-istri siri yang disembunyikan dari mata publik untuk menjaga kewibawaannya. Jika pulang ke rumah pun hanya untuk mandi dan mengganti pakaian saja. Tegur sapa menjadi barang yang langka bagi mereka.
Kemesraan yang telah sirna diantara mereka menjadikan mereka seperti orang yang tidak saling mengenal. Semuanya penuh basa basi dan terasa sangat menyiksa bagi Petra. Pada awalnya ia telah berusaha memperbaiki keadaan tersebut dengan mengurangi kesibukan di luar rumah. Ternyata itu belumlah cukup bagi suaminya yang memiliki pesona tersendiri bagi banyak perempuan. Dengan alasan ketidak-mampuannya memberi keturunan, ia terpaksa merelakan diri dimadu jika itu membuat suaminya senang. Hatinya tercabik-cabik dengan alasan yang memojokkan itu. Namun kepasrahan dan rasa tak berdaya menyebabkan ia terpaksa menyetujui keinginan tersebut. Suaminya sangat pandai memanipulasi dirinya sehingga dalam ketakberdayaan Petra harus mampu menutupi keadaan yang menghisap habis cahaya kehidupannya ini.
Itu pun belumlah cukup, demi ambisi sang suami ia juga rela dijual kepada publik. Apalagi ambisi tersebut mendapat dukungan dari orang tua Petra yang merupakan salah satu orang ternama di daerah ini. Pengaruh orang tuanya cukup besar terhadap politik setempat. Kemauan suaminya mendapat dukungan penuh dari ayahnya yang tidak pernah tahu bahwa anaknya telah diperlakukan dengan tidak adil. Petra menahan semuanya dengan pertahanan yang berlapis hingga kondisi rumah tangganya tidak diketahui siapa pun termasuk orang tuanya.
Awalnya, Petra beranggapan jika ia memenuhi keinginan dan ambisi suaminya untuk menjadi orang nomor satu maka sang suami pasti akan mendampinginya dan lambat laun ia dapat menarik kembali ke sisinya. Harapan yang tumbuh menyebabkannya menyetujui ide tersebut. Bujukan sang suami meluluhkan hatinya walaupun ia sama sekali tak menyukai politik. Hatinya lebih memilih hidup tenang di sisi suaminya. Ia begitu mendambakan kebahagian bersama dengan suaminya kembali. Asa yang entah kapan akan terwujud.
Memang benar sang suami menjadi lebih sering berada di sisinya. Hampir sepanjang siang Petra selalu bersama sang suami menghadapi masyarakat yang akan dipengaruhinya dalam pemilihan yang akan datang. Dari hari ke hari kondisi tersebut stagnan, tidak berkembang sama sekali. Kebersamaan mereka hanya sebatas itu. Harapannya hanya tinggal harapan, lagi-lagi kehampaan menerpa hatinya yang telah lama menyepi. Pertahanan berlapis yang dibangunnya pun mulai goyah. Kekecewaan demi kekecewaan mengikis pondasi pertahanannya.
”Pa, aku ingin bertemu sekarang. Ada hal penting yang akan aku sampaikan,” Petra menghubungi sang suami yang baru saja meninggalkannya dengan mobil lain.
”Ada apa? Kita baru saja bersama, kenapa tidak tadi saja kamu sampaikan,” formalitas sekali nadanya. Petra benci itu. Sangat membenci keformalan seperti itu.
”Ini baru terpikir dan penting bagi perkembangan pencalonanku,” tegas Petra berkata dan ia mengharapkan sang suami mau berbalik dan menemuinya.
”Hmm, baiklah, jika itu untuk membicarakan tentang pemilihan, di Resto saja ya,” jawab suaminya.
Setengah jam berikutnya mereka bertemu di sebuah restoran besar di kota ini. Makan malam sudah terhidang. Meskipun dirasa telat untuk makan, Petra telah memesannya terlebih dahulu sebab sejak siang mereka berdua memang belum makan.
”Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya suaminya kelihatan tak sabar.
”Pa, aku ingin mengakhiri semuanya!” kata Petra pelan namun tegas.
”Apa maksudmu?” suara sang suami meninggi dan menatapnya tajam.
”Aku akan mundur dari pencalonan, aku sudah tidak berminat,” Petra menjawab tegas dan membalas tatapan tajam suaminya.
 ”Mengapa? Ini kesempatan yang sangat baik bagimu? Respon masyarakat sangat positif. Kamu sudah di atas angin. Mengapa tiba-tiba berpikir konyol seperti itu?” suara suaminya semakin meninggi.
”Karena itu bukan kemauanku. Aku tidak mau diperalat,” jawab Petra sedikit ketus.
”Siapa yang memperalatmu? Ini kesempatan yang baik untukmu. Kenapa kamu sia-siakan. Berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan. Berapa banyak waktumu telah terbuang. Kenapa singkat sekali pikiranmu?” ia menggenggam tangan Petra dan meremasnya kuat menandakan ada kegelisahan yang amat sangat disana.
”Bukankah itu kemauanmu, Pa? Aku tidak menginginkan jadi orang nomor satu. Keinginanku sederhana saja cukup jadikan aku istri nomor satumu! Dan aku tak pernah peduli dengan dana yang telah dikeluarkan kerena bukan berasal dari kantong kita.” ketus Petra menanggapi.
”Kemana arah bicaramu? Kamu masih istriku kan?” suaminya bertanya heran.
”Tapi sudah bertahun-tahun kamu tidak perlakukan aku seperti istri layaknya. Aku hanya istri politikmu. Sebagai maskot yang tak boleh punya perasaan. Aku ini masih manusia normal. Sekarang, aku memutuskan untuk keluar dari semua ini. Aku akan mundur,” kata-kata Petra lugas, tegas dan seperti tidak dapat ditawar lagi keputusannya itu.
”Ma...,” suaminya melunak, tapi hati Petra sudah tidak dapat dilunakkan lagi.
”Terima kasih, kerena kamu masih ingat panggilan itu. Tapi untuk kali ini saja, hargai keputusanku!” Petra sama sekali tidak terpengaruh dengan nada bicara suaminya.
”Ma, tolonglah. Sadarilah bahaya yang sedang mengancamku. Sebentar lagi masa jabatanku berakhir. Kamu kan tau kalau pejabat turun, banyak bahaya yang mengintainya,” suara suaminya melunak dan pandangannya seperti minta dikasihani.
Petra mengerti arah pembicaraan suaminya. Tapi ia telah menentukan sikapnya. Ia tidak mau meneruskan situasi yang telah lama menyiksanya. Ia tidak mau lagi diperlakukan dengan semena-mena dan penuh ketidak-adilan.
”Maaf, Pa. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Aku ingin keluar dari situasi ini,” Petra menunduk menahan tangisnya. Air matanya telah mengering bertahun-tahun yang lalu sehingga tangisnya hanya jatuh ke dalam hati.
”Ma...penjara Ma... relakah Mama kalau aku dipenjara?” tanya yang sangat memelas.
”Lebih baik aku melihatmu di penjara dari pada setiap hari di rumah istri yang lain tanpa sekali pun kamu mau menginap di rumahku. Sekali lagi maaf, Pa.”
”Tegakah kamu? Kamu sudah tidak mencintaiku lagi,” nada suaranya makin putus asa.
”Tega jugakah Papa membiarkanku sendiri selama ini? Ternyata memang tega kan? Jauh di lubuk hatiku, aku masih mencintaimu. Salahku selama ini adalah terlalu memperturutkan keinginanmu sehingga kamu lupa diri, Pa. Karena itu, kembalilah padaku dengan suka rela. Aku menerima kamu apa adanya. Apa dan bagaimanapun keadaanmu,”makin tegas Perta berujar.
”Sekali pun hidupku berakhir di penjara? Tidak adakah cara yang lebih baik?”
”Ya. Sekalipun kamu harus masuk penjara, aku akan mendampingimu, karena aku masih mencintaimu hingga detik ini.”
Akhir pembicaraan, keduanya terpekur di restoran yang sudah sejak tadi ditutup. Dan hari telah menjelang pagi.