Rabu, 01 Juni 2011

Mutiara Hati


Soni menjangkau Hp yang sejak tadi telah berbunyi beberapa kali menandakan ada SMS masuk. Matanya masih susah dibuka karena malam tadi ia tidur lewat tengah malam. Setelah mengucek mata beberapa kali ia menatap layar Hp, ada tiga pesan yang masuk.
Soni mulai membuka kotak pesan. Pesan pertama dari adiknya yang menanyakan kabar bunda mereka. Pesan berikutnya dari seorang teman yang isinya tidak begitu penting. Pesan terakhir dari Mutia.
’Masih lama ya ngambeknya, Son?’ demikian bunyi SMS dari Mutia.  Soni tersenyum dan pesan tersebut sengaja tidak dibalasnya agar Mutia semakin penasaran.
Sebulan belakangan ini Mutia selalu mengirim pesan singkat yang isinya hanya sekedar menanyakan kabar atau hal-hal yang kurang penting lainnya. Soni tidak pernah menjawab walau dihati ia ingin membalasnya bahkan teramat ingin menelpon. Hasrat hati tersebut dengan susah payah ditahannya.
Hingga hari ini, telah delapan bulan Soni tidak menghubungi Mutia melalui Hp. Biasanya setiap hari ia yang selalu menelpon hanya sekedar bertanya kabar. Mutia selalu menjawab sekenanya saja tanpa gairah sama sekali seolah segan bicara dengannya. Selalu demikian dan tak pernah seperti harapannya yang sangat menginginkan Mutia menjawab dengan antusias dan penuh perhatian terhadap dirinya.
Sejak hubungan dengan suaminya mulai bermasalah, Mutia beberapa kali curhat dengan Soni. Soni selalu berusaha menghibur Mutia dan menasehatinya agar bersabar menghadapi persoalan yang mendera rumah tangganya. Bagi Soni, walaupun ia begitu mencintai Mutia, namun kebahagiaan Mutia adalah nomor satu.  Ia sama sekali tak berharap banyak apalagi sampai menginginkan Mutia menjadi miliknya karena ia sadar Mutia telah menjadi milik orang lain.
Mutia adalah cintanya sejak SMA. Perasaan cinta yang selalu tersimpan apik di hati Soni dan hampir tak terusik oleh apapun. Perasaan cinta yang tak pernah berbalas sebab Mutia begitu dingin terhadap dirinya. Mutia hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.
Soni selalu memantau keberadaan Mutia. Ia dengan berbagai cara selalu bisa menemukan Mutia. Hingga pada masanya ia merasa sudah cukup umur untuk beristri, Soni membicarakan masalah tersebut dengan ayahnya.
”Ison mencintai seorang perempuan. Tapi hingga saat ini dia kelihatannya tidak pernah mencintai Ison. Apakah Ison harus berteguh mengajaknya untuk menjadi istri?” tanya Soni pada ayahnya ketika itu.
”Jika perempuan itu tidak mencintaimu, buat apa kamu memaksanya untuk menjadi istrimu. Lupakan saja dia. Carilah perempuan lain yang dapat melabuhkan cintanya padamu,” demikian jawab ayah Soni.
Soni dapat mengerti alasan yang dikemukakan oleh ayahnya. Perempuan yang akan dijadikan istri adalah perempuan yang dapat menerima dirinya apa adanya, rela memberikan seluruh waktu untuk melayani dirinya. Jika perempuan itu tidak mencintainya mustahil ia akan memperoleh pengabdian yang tulus dari seorang istri.
Akhirnya pilihan Soni jatuh pada seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan dan tanpa proses yang terlalu panjang ia mempersuntingnya. Namun nasib baik belum memihak padanya. Perkawinannya hanya bertahan kurang dari empat tahun dan akhirnya ia terpaksa menceraikan perempuan yang telah melahirkan dua orang anaknya. Perceraian itu sangat menyakitkan kedua belah pihak sehingga mantan istrinya membuat dinding pembatas yang hampir tak mungkin dilompatinya untuk bertemu apalagi berinteraksi dengan anak-anaknya.
Bertahun-tahun kesendiriannya, ia masih saja mencari Mutia yang ternyata telah bersuami pula. Sebesar apapun perasaan cintanya, sebesar apapun hasratnya terhadap Mutia, namun Soni selalu menaruh hormat pada perempuan itu. Tidak ada sedikit pun keinginannya untuk melecehkan Mutia dengan mengeluarkan kata-kata rayuan atau kata yang tidak pantas setiap kali mereka bicara di Hp.
Makin sering Soni bicara dengan Mutia, perasaan cintanya semakin mendalam. Apalagi ketika Mutia menceritakan bahwa bahteranya mulai oleng. Tumbuh sebentuk harapan di hati Soni, namun ia segera menepisnya. Satu sisi hatinya mengharapkan perceraian Mutia sebab dengan demikian ada harapan baginya untuk bersama. Sisi lain hatinya mengutuk keculasan niatnya yang mengharapkan keruntuhan rumah tangga orang yang amat dikasihinya. Akhirnya  Soni hanya mampu memberi nasehat agar Mutia senantiasa bersabar.
Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk berharap. Soni merasa lelah. Ia ingin lepas dari rasa cintanya yang tak mungkin berbalas. Ia memutuskan untuk pergi menjauh dari Mutia dan takkan pernah menghubunginya lagi.
Keputusan sudah Soni buat dan ia benar-benar tidak pernah lagi menghubungi Mutia walaupun melalui Hp. Jika Hp-nya berbunyi dan ia melihat nomor Mutia, maka ia menahan diri agar tidak menjawab panggilan tersebut. Bahkan SMS Mutia tidak pernah sekalipun dibalasnya.
Pagi ini, selesai sarapan, Hp Soni kembali berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk. Pesan dari Mutia. Pesan tersebut mulai dibacanya.
’Son, rumah tanggaku tak bisa dipertahankan lagi. Aku telah resmi bercerai dengan suamiku.  Akupun menyadari bahwa selama sebelas tahun aku berusaha mencintainya, namun tidak berhasil karena sesungguhnya ia pun tidak mencintai aku. Setahun setelah pernikahanku, aku baru menyadari bahwa sesungguhnya aku mencintaimu. Tapi hal itu sudah terlambat sebab masing-masing kita telah punya pasangan. Setelah delapan bulan kamu menghilang, akupun mulai pesimis, jangan-jangan kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Hari ini ulang tahunmu. Selamat ulang tahun Son, akupun harus tahu diri untuk pamit padamu.’ Sebuah pesan yang cukup panjang.
Soni terdiam di tempat duduknya. Selama dua puluh tiga tahun ia ingin tahu perasaan cinta Mutia terhadapnya, baru hari ini ia mengetahuinya. Hatinya serasa terbang, angannya melayang jauh menembus awan dan ia merasa sangat bahagia dengan pernyataan Mutia tersebut.
”Ternyata Mutia pun mencintaiku...,” desahnya dalam helaan nafas yang panjang.
Tanpa ragu Soni langsung mengemas pakaiannya dan ke bandara dengan harapan masih ada penerbangan ke Jakarta untuknya. Tuhan mengabulkan doa yang dipanjatkannya sepanjang perjalanan tadi. Ia mendapat penerbangan siang ini. Dan sore harinya Soni telah berada di dalam taksi menuju rumah Mutia.
Beberapa kali bel ditekannya, namun tak ada tanggapan. Soni berdiri dengan gelisah di beranda. Ia mencoba menelpon Mutia beberapa kali, namun tidak mendapat jawaban.
”Maaf mas,” tegur seorang ibu dari balik pagar rumah Mutia,”ibu Mutia di rumah sakit, ada kecelakaan beberapa jam yang lalu.”
”Apa?” Soni terkejut, ”Bagaimana keadaanya?”
”Parah sekali mas,” jawaban yang membuat jantung Soni serasa berhenti seketika.
Soni segera menanyakan alamat rumah sakit tersebut. Kemudian ia bergegas masuk kembali ke taksi yang masih menunggunya. Kemudian taksi melaju menuju rumah sakit yang dimaksud.
”Ya Tuhan... apa yang terjadi dengan Mutia. Lindungilah dia ya Allah,” desis Soni dan ia terus memanjatkan doa untuk orang yang sangat dicintainya itu. Hatinya begitu miris dan kegelisahannya semakin tak terkendali. Apakah ia masih sempat bertemu dengan Mutia?
Begitu memasuki rumah sakit, ia segera menuju ruang informasi.
”Saya mencari korban kecelakaan yang masuk pagi ini. Ibu Mutia,” kata Soni dengan nafas sedikit terengah karena ia berlari dari tempat taksi berhenti.
”Ibu Mutiara di ruang ICCU, lurus lorong ini terus belok kanan,” jawab petugas jaga. Soni langsung berlari menuju ruang yang dimaksud.
Sesampainya di depan pintu ruang ICCU, Soni berhenti sejenak mengatur nafasnya dan berusaha menenangkan hatinya. Seorang perawat keluar dari ruangan tersebut dan Soni meminta diizinkan masuk.
”Apa hubungan saudara dengan pasien? Pasien belum boleh diganggu, hanya boleh dilihat dari kaca pembatas” kata perawat tersebut.
”Saya abangnya, Sus. Saya mohon, izinkan saya,” jawab Soni sedikit memelas. Perawat meminta Soni mengenakan pakaian khusus dan kemudian mempersilahkannya masuk.
Soni melangkah pelan dan berusaha menguatkan hatinya. Ia melihat seseorang terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan berbagai peralatan medis terpasang di tubuhnya. Kepalanya terbalut perban sehingga wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas dari tempat soni berdiri, ”Bintang kecilku....,” lirih suara itu keluar dari bibir Soni, lebih menyerupai erangan. Ia ingin mendekat namun kaca pembatas itu menghalanginya.
Air mata Soni turun dan ia masih termangu menatap sosok yang terbaring tak berdaya itu. Ia tak mengerti mengapa Tuhan tidak merestui cintanya pada Mutia. Ketika harapannya hampir terwujud, ternyata Tuhan berkehendak lain.
”Son?” suara lembut yang amat dikenal Soni datang dari arah belakangnya. Soni terkesiap, ia segera membalikkan badannya. Matanya terbelalak, tak percaya melihat Mutia sekarang berdiri tepat di depannya.
”Mutia?” katanya ragu-ragu takut pikirannya salah karena terobsesi dengan bayangan Mutia.
”Iya, Son. Ini aku,” jawab Mutia sambil menyentuh lengan Soni.
Soni begitu terharu dan langsung memeluk erat Mutia. Hal yang belum pernah dilakukannya selama ini terhadap Mutia.
”Mutia, Mutia... aku mengira kamu yang berada di dalam,” kata Soni masih mendekap erat Mutia. Ia tak ingin melepaskan pelukannya, sangat takut kalau Mutia tiba-tiba raib dari sisinya.
Wajah Mutia memerah. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Soni. Soni merasakan gerakan Mutia, dan ia pun melepaskan pelukannya.
”Itu papanya Keyla. Key barusan dibawa ibuku pulang,” Mutia berujar sambil menunduk. Ia merasa malu namun jantungnya berdebar  kencang. Dan ia makin gelagapan ketika Soni menyentuh dagunya dengan jari telunjuk dan mengangkat wajahnya agar dapat terlihat dengan jelas oleh Soni.
Soni mengecup lembut keningnya dan membawanya dengan lembut ke dalam dekapan hangat. Mutia membiarkannya meskipun perasaan malu dan salah tingkah masih menguasai dirinya.
”Aku  tidak akan pernah membiarkanmu hilang lagi. Cukup sudah penantian panjangku selama ini, bintang kecilku, mutiara hatiku yang tetap berkilau hingga akhir zaman. Bila semua ini berlalu, maukah kamu menikah denganku, Mutiara?” ujar Soni tanpa ragu lagi, ia begitu yakin dengan keputusannya sekarang ini. Sebuah cinta memang selayaknya diperjuangkan bukan dibiarkan merana hanya karena merasa cinta tak berbalas.
Mutia tak sanggup berkata-kata, namun dalam dekapan yang hangat ia mengangguk pelan. Dan bagi Soni itu adalah jawaban yang selama ini didambakannya.
  
1 juni ’11
Bingkisan khusus tuk temanku Khai

Sabtu, 21 Mei 2011

BIAS KASIH


“Aku pergi dulu, Ma. Masak yang enak nanti ya. Aku pulang cepat hari ini. Kamu masih cuti kan?” katanya sambil mengecup keningku.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Aku mengiringinya hingga keluar pintu rumah dan melepaskannya dengan pandangan jengah. Kemudian aku menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangan ke dalam rumah. Keadaan rumah seperti kapal pecah. Tisyu bekas berserakan di lantai. Pakaian bekas pakai menumpuk di salah satu sudut ruangan. Aku segera bergerak membereskannya.
Setelah kondisi rumah yang sembrawut berhasil ku rapikan, kini aku merambah ke dapur. Aku membuka kulkas dan melihat persedian apa saja yang ada disana. ”Hmm... sayur asem, ikan asin, tahu goreng, sambel terasi.... lumayan,” gumamku.
Semua ku kerjakan dengan penuh semangat. Aku ingin menyenangkan hatinya yang telah rela memberi naungan dan melindungiku. Aku, dengan segala kemalangan nasib membawaku kepadanya.
Inilah kisahku.
Aku pernah menikah tiga kali. Kegagalanku membina rumah tangga membuatku jadi gamang menjalani hidup ini. Selalu saja ada laki-laki yang berusaha mendekatiku setelah perceraian. Namun kegagalan membuatku berpikir ribuan kali untuk menjalin hubungan yang serius.
Mantan suamiku yang pertama pergi meninggalkanku sehari setelah kami menikah. Setelah malam pertama kami, ia hanya bertanya lirih, ”Dengan siapa kamu pernah melakukannya?” Aku hanya menatapnya tidak mengerti sebab aku yang berusia 14 tahun masih lugu tidak memahami maksud perkataannya tersebut. Setelah itu ia pergi dan tak pernah kembali lagi.
Setelah makin dewasa baru aku mengerti maksud pertanyaan tersebut. Ia menuduhku telah berhubungan dengan lelaki lain sebelum menikah. Ia tidak mendapati selaput daraku yang berdarah. Alangkah piciknya ia. Padahal belum pernah sekalipun aku melakukan hal itu selain pada malam pertama dengannya. Jika selaput daraku ternyata sudah robek sebelumnya, mana aku tahu disebabkan oleh apa. Bisa jadi disebabkan tungganganku setiap hari sepeda ontel bapakku untuk membawa kayu bakar buat dijual di pasar yang jaraknya 20 kilo meter dari rumah.
Memasuki usia 19 tahun seorang laki-laki yang kelihatannya begitu penyayang melamarku. Meskipun beda usia kami 15 tahun, namun aku bersedia menjadi istrinya. Pada awalnya ia memang sangat memperhatikanku bahkan pada hal-hal yang paling kecil sekali pun. Tengah malam aku terbangun sambil mengeluh haus, ia langsung bangun dan mengambilkan segelas air untukku. Aku diperlakukan seperti ratu. Aku sangat tersanjung kala itu.
Tubuhku makin gemuk sebab sehari-hari aku hanya memuaskan nafsu makanku. Semuanya sudah disediakan oleh pembantu yang berjumlah 10 orang. Taman yang luas menjadi tempatku menyenangkan diri menikmati bermacam-macam kembang yang tumbuh dan terawat dengan baik. Bagi orang yang melihat, aku seperti hidup di surga. Namun tidak demikian yang kurasakan. Aku merasa hidup di sangkar emas. Badanku terkurung namun hatiku mengembara ke negeri antah berantah yang semuanya berada dalam khayalku.
Jika aku ingin ke luar, maka suamiku akan mengerahkan sebagian pembantu menemaniku dan sadarlah aku bahwa tidak ada kebebasan untukku lagi. Aku mulai mengajukan protes pada suamiku. Namun hal itu tak pernah ditanggapinya. Ia hanya tersenyum tenang mendengar keluhan bahkan protes dengan nada keras dariku. Dalam pandanganku saat itu, suamiku adalah orang yang tak punya perasaan sama sekali.
Aku mulai merana. Aku berontak, namun tak berdaya. Kekuasaan suamiku demikian besarnya hingga aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hampir tak menyentuh makanan sebagai reaksi dari sikapnya yang tak berperasaan. Tubuhku kembali langsing namun aku selalu merawatnya dengan perawatan kelas satu.
Masuk tahun kesepuluh pernikahan keduaku, aku belum juga diberi kesempatan menjadi seorang ibu. Aku mulai bertanya-tanya siapa diantara kami yang bermasalah pada kesuburan. Namun suamiku tak pernah mau membahasnya. Aku mulai mencurigainya. Jangan-jangan dia bermasalah pada organ reproduksinya.
Suatu hari, disebabkan kebosanan yang memuncak, aku diam-diam pergi ke mal sendirian dengan menaiki taksi. Aku berjalan sendiri dan bertemu dengan seorang teman dari kampungku. Dia menyapaku ramah. Dengan keterbatasan ingatanku, ia menerangkan siapa dirinya sehingga aku dapat mengingatnya kembali.
”Kamu kelihatan tidak bahagia, mana suamimu? Kok kamu pergi sendirian?” ia mengajukan sebuah pertanyaan yang tepat sekali pada sasarannya.
”Apa  aku kelihatan tak bahagia olehmu?” aku balik bertanya.
”Iya. Kamu terlihat murung dan sorot matamu seperti kesepian. Bahagiakah tampilanmu yang seperti itu?” ia mengamatiku dengan sorot mata menyelidik.
 Aku hanya tersenyum, tidak ingin menjawab pertanyaannya. Selanjutnya kami hanya membicarakan tentang kehidupan kami waktu di kampung dulu. Asyiknya bercerita menyebabkan aku lupa waktu dan entah dari mana tiba-tiba suamiku muncul di hadapanku. Dengan tenangnya ia mengajakku pulang dan dengan senyum misterinya ia pamit pada temanku.
”Jadi itu kerjamu ya? Menghilang diam-diam untuk bertemu dengan laki-laki lain. Apa tidak cukup perhatianku selama ini padamu hingga kamu masih mencari laki-laki lain?” tanya suamiku dengan dingin dan tatapannya, ya Tuhan, begitu dinginnya hingga aku menggigil hampir hypotermia.
”Aku baru bertemu dengannya. Ia temanku di kampung dulu. Dan baru ini aku begitu ingin keluar sendiri tanpa dikawal oleh penjaga,” jawabku dengan mengumpulkan segenap keberanian.
”Sekali katamu? Maaf, aku tak percaya. Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tak percaya. Mana ku tau kalau baru sekali. Mungkin di belakangku kamu sudah sering melakukannya. Jika kamu benar-benar ingin bebas, maka hari ini aku membebaskanmu dengan talak satu,” lembut kata-katanya namun seperti bunyi petir yang demikian kerasnya membuatku terkejut dan tak mampu berkata-kata. Aku terperangah. Semudah itu putusnya ikatan yang telah terjalin selama sepuluh tahun. Ternyata kami hanya menjalin benang rapuh. Dan dengan kepahitan aku menerima keputusannya tanpa diberi kesempatan untuk membela diri sedikit pun.
 Setelah itu aku mulai ragu menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Wajahku yang katanya sangat cantik menyebabkan banyak laki-laki yang datang bahkan tak sedikit langsung melamarku. Tapi aku masih tak percaya dengan kesungguhan mereka untuk menikahiku. Entah mengapa akhirnya hatiku tertambat pada seorang pengangguran berbadan kekar yang sering lewat di depan rumah. Itulah cinta. Tidak tahu akan tumbuh dimana.
Dengan suamiku yang ketiga, aku menghadapi situasi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Aku terpaksa bekerja untuk membiayai hidup kami. Dengan modal tampang yang kumiliki aku cukup mudah mendapat pekerjaan, apalagi selama menjadi istri mas Royan, suami keduaku, aku dibekalinya dengan berbagai kursus dan tingkat pendidikanku diperbaikinya dengan mengikuti ujian persamaan paket B dan C. Hingga akhirnya akupun dapat menamatkan kuliah.
Namun suami ketigaku selain pengangguran ternyata punya kegemaran berjudi. Jika ia kalah di meja judi maka kekesalan hati dilampiaskannya padaku. Aku harus mampu menahan pukulan dan tendangannya. Tidak jarang hingga aku jatuh tersungkur. Rumah dan segala perhiasan yang diberikan suami keduaku ludes di meja judi. Akhirnya kami mengontrak sebuah rumah kecil di pinggiran kota.
Aku bertetangga dengan Ipa yang hidup berdua dengan keponakan perempuannya. Ia sangat memperhatikanku. Jika pagi hari aku keluar dengan memar di wajah, maka ia memanggilku kemudian mengompres lebam tersebut dan untuk menyamarkannya aku diberi riasan khusus sehingga orang kantor tidak pernah tahu siksaan yang aku alami. Hanya pada Ipa aku berkeluh kesah tentang penderitaanku.
Ketika aku mulai hamil, aku berharap suamiku akan menjadi sadar bahwa ia akan segera menjadi seorang ayah dan sekaligus memiliki tanggung jawab yang besar terhadap diriku dan janinku. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Suatu malam, di tengah hujan deras, ia menyeretku keluar dari rumah karena kejengkelannya terhadapku yang menolak tidur dengan teman judinya. Aku dipertaruhkan di meja judi. Aku merasa sangat terhina.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dan berteriak-teriak, ”Ceraikan aku. Ternyata kamu bukan manusia!”
Aku bersimpuh, membiarkan hujan deras mengguyur tubuhku. Aku menggigil menahan rasa sakit yang amat sangat diseluruh tubuhku dan darah mengalir dari selengkanganku. Aku sadar, aku telah kehilangan janinku. Aku keguguran.
Aku bersidekap dan memanjatkan doa dalam isak tangis yang pilu,”Tuhan, dengan tak satupun yang kumiliki, aku menghadap Mu. Kumohon belas kasihan Mu atas diriku yang tengah didera sakit dan siksa. Tuhanku, sesungguhnya sakit hanyalah rasa dan siksa hanyalah derita. Hilangkan itu semua dari diriku agar aku dapat berdiri dan berjalan sesuai dengan perintah Mu.”
Sebelum kesadaranku hilang, aku masih merasakan seseorang memanggilku, ”Emaaa....,” lalu ia mendekapku dan berusaha menggendongku dipunggungnya. Berikutnya yang kutahu, aku dirawat berhari-hari di rumah Ipa tetangga sebelah yang selama ini selalu membantuku menghadapi berbagai persoalan hidup. Ia begitu perhatian dan melayaniku dengan penuh kasih sayang. Aku sangat berterima kasih padanya.
Selama proses perceraianku berlangsung aku menumpang di kontrakan Ipa. Setelah kesehatanku pulih, aku kembali masuk kerja dan rutinitas itu kujalani setiap hari kecuali minggu atau hari libur. Ipa selalu menghibur dan meyakinkan diriku bahwa aku dapat hidup bahagia meskipun tidak bersuami.
Ia kerap memelukku dan pelukan itu mampu menenangkanku. Kadang-kadang saat aku gelisah, ia tanpa ragu merengkuhku dan mengecup ubun-ubunku. Aku membiarkannya melakukan itu sebagai ungkapan rasa simpati padaku. Rasa aman dan terlindungi mengalir dalam diriku. Rasa yang kuat dan makin lama makin kuat, sehingga aku ragu, apakah aku telah jatuh cinta padanya.
Kami tidur dalam satu kamar, sementara keponakannya tidur di kamar belakang. Tidak jarang kami berpelukan ketika akan tidur. Ia membelai rambutku yang panjang dan aku menikmatinya sebelum aku benar-benar terlena.
Hari demi hari kemesraan kami makin bertambah. Ia tak pernah ragu-ragu lagi memelukku dan bahkan menciumku. Apalagi sejak keponakannya tidak tinggal serumah dengan kami. Entah kegilaan seperti apa yang kami lakukan. Tapi aku benar-benar merasa bahagia dan mungkin dia lah pelabuhan terakhirku, mesti mustahil dengan ikatan resmi.
Jam 12 lewat 10 ia pulang dengan membawa sebuah bingkisan. Aku menyambutnya dengan senyum termanis. Ia bergegas masuk rumah, mengatupkan pintu dan kemudian memelukku erat. Aku terkejut namun membalas pelukannya dengan hangat.
”Ada apa, Pa? Kok tumben, lain dari biasanya,” tanyaku setelah ia merenggangkan pelukan.
”Aku ingin bertanya serius padamu. Jawab dengan jujur. Bahagiakah kamu hidup bersamaku?” matanya menatap mataku dengan lembut dan senyum nakal menghiasi bibirnya.
Aku berpikir sejenak dan kemudian aku menjawabnya,”Iya, aku bahagia bersamamu. Bahkan ingin rasanya selamanya bersamamu.”
Kemudian ia kembali menarikku dalam pelukannya. Aku merebahkan kepalaku ke dadanya yang bergerak naik turun dengan teratur. Aku mendengar irama jantungnya yang semakin berdegup kencang.
”Aku membelikan sesuatu untukmu. Mudah-mudahan kamu menyukainya” lalu ia melepaskan pelukannya dan menyerahkan kemasan terbungkus rapi yang dibawanya tadi.
Aku membuka bungkusan itu dan kudapati isinya gaun malam yang amat cantik berwarna merah tua sangat kontras dengan kulit putihku. Aku langsung mengenakannya. Ketika aku tampil di depannya ia berguman pelan namun masih tertangkap di pendengaranku, ”Kamu memang cantik sekali. Rugilah orang-orang yang telah menyia-nyiakanmu.”  
”Terima kasih, aku sangat menyukainya,” ujarku dengan mata berkaca-kaca. Kutahan air mata yang hampir jatuh di pipiku.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celana, lalu membukanya. Sebuah cincin mungil yang sederhana namun berkilau dikeluarkan dan langsung dikenakannya di jari manisku. Kali ini aku yang memeluk erat dirinya. Aku begitu terharu.
”Andai saja kita bisa menikah, maka akan ku nikahi dirimu segera. Namun, takdir menentukan lain. Hal itu mustahil terwujud. Aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku. Aku mencintaimu seperti cinta seorang lelaki yang sedang kasmaran. Aku akan melindungimu dan akan menjagamu seumur hidupku. Apakah itu cukup bagimu?” pertanyaan yang membuat air mataku tak bisa ku bendung lagi.
”Aku juga sangat mencintaimu. Aku menerimamu apa adanya. Bagiku, cukuplah apa yang dapat kamu berikan. Aku tidak menuntut lebih dari itu. Perkawinan hanya sebuah ikatan yang sewaktu-waktu dapat putus. Tapi kasih sayang seperti ini takkan mudah memutuskannya,” jawabku disela isak tangis.
Kami saling berpelukan dan ia pun ikut menitikkan air matanya. Kami menyadari bahwa secara fisik kami adalah sejenis dan hal mustahil untuk bicara cinta lebih jauh dari sebuah harapan yang takkan mungkin terwujud. Bersamanya aku temukan kedamaian, dan bagiku itu telah lebih dari cukup.

Senin, 09 Mei 2011

SELAMAT JALAN KASIH


Malam semakin kelam. Rembulan sembunyi di balik awan, kadang mengintip malu-malu namun bersembunyi kembali. Waktu yang terus berlalu menyebabkan malam makin larut dan kesunyian makin terasa. Keheningan yang mencekam bersanding dengan kegelapan mencuatkan kegelisahan yang kian mendalam. Gitar yang sejak tadi menemaniku, ku sandarkan ke dinding karena mulai terasa berat dalam pangkuan.
Aku termangu, masih enggan meninggalkan tempat duduk yang telah empat jam lebih menyangga bokongku. Sudah panas rasanya. Tapi aku tak peduli. Dengan pemilik warung aku mengatakan akan bergadang di tempat ini, dan aku sudah mengantongi izin untuk itu.
Ini rokok terakhir yang kusulut dari bungkus kedua sejak sore. Sejak tadi mulutku sudah seperti sepur tua yang mengeluarkan asap tiap sebentar. Kadang-kadang aku mempermainkannya dengan membentuk bulatan-bulatan yang bergulung-gulung. Sekali-sekali aku menepisnya membuyarkan gulungan asap tersebut.
Kegelisahan merambat pelan ke hatiku. Aku tidak tahu dari mana datangnya perasaan itu. Tapi makin lama, perasaan itu makin menyesakkan dadaku. Aku segera mematikan puntung yang masih tinggal setengah, mengira itu penyebab sesak yang tiba-tiba kurasakan. Namun itu juga tidak membuat dadaku lapang. Perasaan gelisah ini sebenarnya telah hadir sejak tadi. Aku berusaha merintanginya dengan main gitar. Lewat tengah malam kegelisahan itu makin menjadi.
”Aguuuus...,” suara lirih panjang yang sangat pelan nyaris seperti berbisik di telingaku.
Refleks aku menoleh ke kiri asal suara tersebut. Sekelebat bayangan bergerak cepat dan kemudian berdiri tepat dihadapanku, hanya beberapa langkah dari tempat dudukku. Makin lama bayangan itu makin jelas.
“Aku minta maaf…,” suaranya demikian pilu dan raut wajahnya terlihat sendu.
”Kirana? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah apa-apa padaku,” jawabku dengan debaran aneh di dada. Berikutnya, tenggorokanku rasa tersumbat batu sebesar kepalan tangan.
”Aku hanya ingin mendengar kata maaf dari bibirmu. Maafkan aku yang telah mengusik ketenteraman hatimu,” kata-kata yang keluar dari bibirnya makin lirih dan terdengar makin jauh. Aku tak sanggup menjawabnya.
Makin lama bayangan itu kian memudar dan tatapan matanya semakin kosong, tak bercahaya seperti hampir padam pelita kehidupannya.
”Agus..,” bisiknya lirih,”rasa sayang padamu ku bawa sampai mati...,” itulah kata terakhir yang kudengar sebelum bayangan itu benar-benar hilang dari pandangan.
Aku tersadar dari ketersimaanku. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Tak ku temukan bayangan tadi dalam siluet subuh yang telah menjelang.
”Ternyata hanya mimpi,” batinku menengahi ketakjubanku pada peristiwa yang baru kualami. Aku yakin, aku tertidur sekejap tadi. Walau aku masih ragu apakah benar demikian, namun itulah jawaban untuk menenteramkan hatiku.
KIRANA adalah nama yang mengusik hatiku beberapa bulan belakangan ini. Nama yang sempat menghiasi hari-hariku dengan cinta kasih yang membuai dan melambungkan angan jauh menembus langit biru.
Kirana yang selalu kuimpikan dan yang mampu menggugah hasrat hatiku. Yang selalu membuaiku dengan tutur kata manis nan memabukkan. Yang selalu tampil bersahaja namun sangat anggun dan pancaran kasih sayangnya mampu melembutkan kekerasan hatiku, mampu meluluhkan kecongkakanku.
Namun Kirana adalah Kirana yang tidak mungkin dapat kumiliki meskipun segala puja dan puji ku tujukan padanya. Kirana adalah sosok impian yang telah menjadi milik orang lain dan dengan segala santunnya ia begitu mengabdi pada suaminya.
Hubungan kami tidak lebih dari barisan dialog yang terus-menerus muncul dan bersahut-sahutan di Hpku. Perhatiannya, kata-katanya yang begitu indah seperti berpuisi menyentuh hati dan perasaanku. Aku selalu berkhayal andai dia benar-benar menjadi kekasihku.
Dari awal Kirana telah mengingatkan kalau hubungan kami hanya sebatas pertemanan biasa yang akan dibumbui kemesraan sebab ia memiliki misi tertentu. Aku tidak lupa namun perasaanku tak bisa berdusta. Seiring berjalannya waktu perasaan cinta makin membuncah dan sangat sulit ku tahan.
Nalarku kadang tidak bekerja dengan baik. Dan aku lupa kalau ia telah menjadi milik orang lain. Tanpa kusadari sepenuhnya aku sangat menikmati hubungan yang terbentuk sebagai sebuah sensasi yang maha dahsyat. Namun, suatu ketika arus kesadaran kembali mengingatkanku akan hakekat sebenarnya.
Aku ingin bebas dari belenggu asmara yang membuatku bahagia sekaligus merana. Jika aku masih berhubungan dengannya melalui media pesan elektronik  aku semakin kacau, maka aku putuskan untuk melepaskan diri dari kontak dengan mengganti kartu ponsel dan menghapus akun facebook atas namaku. Aku akan hilang kontak dengan seluruh temanku, tapi biarlah bila itu lebih baik. Lagi pula hanya untuk sementara, sampai aku mampu mengontrol hatiku. Bila semua telah kembali sesuai pada tempatnya maka aku akan mencari mereka kembali.
Hari-hari selanjutnya aku berteman dengan sepi, untung ada gitar yang dengan setia menemani malamku. Namun kerinduan tetap saja mendera dan sekuat tenaga aku menahannya.
Sebulan yang lalu ketika kartu lama ku aktifkan untuk menghubungi sahabatku di Jakarta sebuah sms masuk dan isinya sangat mengejutkan hatiku.
’ternyata aku terkena kanker stadium 4,’ singkat bunyi pesan itu tapi rasanya seperti petir di tengah hari terik. Pesan singkat itu dikirim 8 jam sebelumnya, berarti sekitar tengah malam. Ada dorongan besar dalam jiwaku yang mendesak untuk menemuinya. Hati kecilku menyanggah sebab saat itu entah mengapa kerinduanku memuncak dan hal tersebut mempengaruhi benteng pertahanan yang sudah kubangun sejak memutuskan akan melupakannya. Jika aku menemuinya maka rasa cinta yang kupendam akan kembali menyeruak ke permukaan dan aku tidak akan mampu menutupinya lagi.
Bayangan yang hadir menjelang subuh tadi menyisakan kegelisahan panjang. Setelah mandi dan sarapan, aku mengaktifkan Hp dan sebuah pesan masuk. Ternyata dari sahabatku. Aku segera membukanya.
’Jika kamu tak ingin menyesal seumur hidup, segera ke alamat ini...’ demikian isi pesan itu. Pesan yang misterius dan benar-benar membuat kepalaku berdenyut.
Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, perasaan semakin tak karuan. Jika itu tak penting sekali, tidak mungkin sahabatku mengirim pesan singkat yang bernada mendesak begitu. Alamat itu asing bagiku, tapi aku dapat mencarinya.
Dengan rasa penasaran yang luar biasa akhirnya kutemukan alamat yang dimaksud. Sebuah rumah besar berhalaman luas dan begitu banyak orang yang berkumpul disana.
”Hmm, rumah siapa ini?” bisikku, bicara pada diri sendiri.
Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru, berharap menemukan orang yang ku kenal. Semuanya asing bagiku. Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku terkejut dan segera membalikkan badan.
”Rudi?” tanyaku keheranan melihat sahabatku berada disini.”Kapan datang? Ini rumah keluargamu?”
”Aku berangkat dengan pesawat malam tadi. Sampai tengah malam,” jawab sahabatku. Ia menuntunku masuk ke dalam rumah lewat beranda samping. Bau khas tercium olehku. Wewangian yang membuat perasaanku semakin tak enak.
”Ada apa, Rud? Ini seperti suasana kematian. Siapa yang meninggal?” tanyaku setelah sampai di suatu ruangan yang luas.
Rudi menunjuk ke tengah ruangan. Mataku mengikuti arah yang ditunjuk. Di tengah ruangan itu, begitu jelas ada sesosok mayat yang tebujur kaku ditutupi kain batik. Beberapa orang duduk di sampingnya.
”Demi Tuhan, Rud. Itu siapa?” tanyaku sambil mencengkeram bahu kirinya. Tiba-tiba kepanikan menjalari jiwaku.
”Itu Kirana, Gus. Ia pergi menjelang subuh tadi. Kanker telah merenggutnya dari kita. Ia hanya mampu bertahan sebulan saja,” jawaban sahabatku itu membuat seluruh tubuhku bergetar. Kakiku menjadi berat untuk dilangkahkan.
Rudi menuntunku hingga sampai di sisi mayat yang terbujur kaku itu. Kain penutup wajah yang berupa selendang tipis disingkapkannya. Dan aku menatap wajah pucat pasi yang diam dengan mata terpejam dan bibir seperti tersenyum. Ia seperti tertidur saja layaknya.
Aku tak tau harus mengapa. Jiwaku seperti ikut hilang bersamanya. Seseorang menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku melihatnya.
”Mas, maaf, aku tidak tau kalau Kirana sakit,”terbata-bata aku mengucapkan kata itu pada suaminya. Ia mengangguk dan menyerahkan amplop itu ke tanganku.
”Sebelum ia pergi, ia mengatakan ingin mendengar kata maaf dari bibirmu. Paling tidak begitulah igauannya,” kata Andrian ,”Sekarang dihadapanku, tolong ucapkan.”
Aku mengalihkan pandangan ke wajah yang sudah tak bercahaya itu,”Aku memaafkanmu, Kirana. Aku memaafkanmu....,” tak terasa air mata mulai turun mengalir di pipiku. Andrian menepuk-nepuk bahuku dan meninggalkanku sendirian. Rudi pun ikut meninggalkanku. Mataku tak lepas dari wajah pucat pasi itu.
Begitu ingin aku mengecup dahinya sebagai ucapan maaf dan sesalku. Tapi demi kepatutan dan keangungan namanya aku menahan diri dan jari jemariku menyentuh wajahnya sebagai pengganti keinginanku. Wajah yang tidak hanya pasi namun sudah dingin lali. ”Selamat jalan kasih...” bisikku sangat pelan dan setelah itu aku menyeka air mata yang tiba-tiba menderas mengalir di pipiku. Air mata langka yang hampir tak pernah aku keluarkan seumur hidupku. Kali ini tanpa dapat kutahan ia turun seperti hujan.
Setelah prosesi berakhir.
Surat yang sejak tadi ku pegang, mulai kubuka dan kubaca.

”Agus, teman baikku,
Aku menyadari umurku sedang dikejar waktu. Bila sampai waktu ku, ku ingin kamu tau bahwa aku menyayangimu sama seperti dengan yang lainnya, tiada kubedakan. Jangan pernah mengukur cinta dan kasih sayangku, karena cintaku sedalam samudera dan kasih sayangku seluas angkasa.”

Singkat surat itu, namun aku merasa bernaung di bawah cinta kasih seorang Kirana. Selamat jalan Kirana....

Minggu, 08 Mei 2011

KUPU KUPU HITAM


     Seekor kupu-kupu besar berwarna hitam berbintik merah terbang menebar pesonanya di tamanku. Ia hinggap di kembang soka kuning menjadikan warna hitam sayapnya demikian menarik. Disaat aku ingin meraihnya ia hinggap di dadaku, tepat di bagian jantungku berdetak.
     Aku terpana melihatnya begitu dekat sekali dengan diriku. Kupu-kupu hitam besar yang sangat menarik tak terusik oleh gerakan dadaku naik turun menikmati sensasi keindahan dan pesona kehadirannya menghiasi dadaku untuk beberapa saat. Aku ingin meraihnya, namun ia terbang dengan bebasnya, mengepakkan sayap perlahan meninggalkanku dan kemudian hinggap di mawar merah yang penuh duri. Aku menatapnya dengan sedih yang termat dalam. Cemas sayapnya yang indah kan robek oleh duri.
     Aku berusaha menjangkaunya namun tanganku terluka torehan duri mawar. Ia terkejut dan kemudian terbang makin jauh meninggalkanku. Aku hanya dapat menatapnya dengan kepedihan dan kepiluan tanpa mampu mengejarnya karena kakiku terpatri di kursi roda yang akhir-akhir ini menjadi sangga hidupku.
     Hatiku menangis, namun aku merelakannya pergi, "Pergilah, terbang dengan bebas kupu-kupuku sayang. Kepakkanlah sayapmu hingga kau merasa lelah. Terbanglah kemana kau suka. Aku akan tetap menunggumu."
     Disini, di atas kursi roda ini aku mengharap suatu saat kau akan kembali walau hanya sekedar menyapaku, "Selamat pagi, Cinta.”
(catatan khusus tuk adikku, Kinanty)

Jumat, 06 Mei 2011

ISTRI POLITIK




Petra menebarkan senyum ke seluruh masyarakat yang sejak tadi mengelu-elukan kedatangannya beserta suaminya yang telah dua periode menjadi pejabat daerah. Kepada orang-orang yang mengulurkan tangan sebisanya ia membalas menjabat tangan mereka atau sekurang-kurangnya menyentuh dengan tangan. Agar tidak mengecewakan yang lainnya, ia melambaikan tangan ke arah mereka.
Para ajudan suaminya dan pihak kepolisian berusaha melapangkan jalan dengan mengarahkan masyarakat untuk membentuk barisan di sisi jalan yang akan dilalui oleh dirinya beserta rombongan. Petra masih harus terus menarik kedua sudut bibir ke atas untuk memberi kesan senyum walau dihatinya ada perasaan jenuh dengan mimik wajah yang harus ditampilkannya, rona senyum yang menawan.
”Uf...,” Petra menghembuskan nafas dengan keras setelah ia berhasil masuk ke mobil yang tak lama kemudian disusul oleh suaminya.
”Acara kali ini cukup sukses. Lihat antusias masyarakat menyambut kamu tadi,” kata suaminya sambil mengulurkan tangan,”selamat, ya.”
”Makasih,” jawab Petra singkat dan ia menyambut tangan suaminya dengan acuh tak acuh.
Beberapa ratus meter berikutnya, mobil tersebut berhenti. Suaminya keluar dan pindah ke mobil lainnya.
”Sampai ketemu besok. Ingat, perlihatkan semangatmu dan tampakkan bahwa kamu bisa jadi pemimpin yang baik bagi mereka,” demikian kata sang suami sebelum meninggalkannya berdua dengan supir.
Petra mengangguk dan menatap punggung suaminya dengan pandangan hampa seolah menatap kepergian orang yang tak dikenal. Mobil suaminya meluncur lebih dahulu, barulah kendaraan yang ditumpanginya bergerak perlahan.
”Pak, jangan pulang dulu. Kita keliling-keliling saja,” perintah Petra pada supir. Sang supir mengikuti perintah majikannya seolah telah paham apa yang diinginkan.
Petra memandang kosong ke luar. Kehampaan mengisi ruang hatinya. Lakon yang harus dijalaninya terasa begitu berat dan amat menyiksa. Hampir tiap malam ia harus menghapal dialog dan melatih ekspresi wajah agar dapat tampil prima di atas panggung. Ia sedang memainkan lakon politik dan peran utama yang diperolehnya berkat dukungan penuh dari sutradara yaitu suaminya.
Agenda hariannya padat. Petra disibukkan dengan berbagai acara dalam rangka menjual diri kepada publik agar ambisi sutradara untuk menjadikannya orang nomor satu di daerah ini terwujud. Pagi hari sosialisasi, siang hari makan bersama ibu-ibu PKK atau majelis ta’lim, sore hari menyalurkan bantuan ke daerah-daerah miskin. Ia benar-benar tak ada waktu untuk dirinya sendiri, malam pun harus diisi dengan latihan adegan yang akan dilakoni keesokan harinya.
Hari demi hari Petra lalui dengan perasaan tertekan dan siksaan batin yang demikian kuat menghimpitnya. Kadang ia ragu apakah menjadi orang nomor satu itu benar impiannya atau hanya sekedar pelarian kecewa hati. Meskipun orang-orang terdekatnya mendukung niat tersebut, namun jauh di lubuk hatinya bukan itu yang dicarinya. Ia mencari yang sangat dicintainya dan telah bertahun-tahun hilang yaitu suaminya.
Meskipun mereka masih terikat tali perkawinan, namun semua itu hanya simbolis. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari mereka hampir tak pernah bersama. Jika akhir-akhir ini bersama, itu disebabkan dukungan untuk menjadi orang nomor satu, bukan sebagai suami yang mengayominya, menjaga dan menyayanginya.
Sejak jadi pejabat daerah, suaminya menjadi sangat sibuk. Hampir tak ada waktu di rumah. Tiap minggu ada saja acara ke luar kota. Jika kembali dari berbagai kegiatan, suaminya tidak langsung pulang menemuinya. Suaminya mampir dulu ke tempat istri-istri siri yang disembunyikan dari mata publik untuk menjaga kewibawaannya. Jika pulang ke rumah pun hanya untuk mandi dan mengganti pakaian saja. Tegur sapa menjadi barang yang langka bagi mereka.
Kemesraan yang telah sirna diantara mereka menjadikan mereka seperti orang yang tidak saling mengenal. Semuanya penuh basa basi dan terasa sangat menyiksa bagi Petra. Pada awalnya ia telah berusaha memperbaiki keadaan tersebut dengan mengurangi kesibukan di luar rumah. Ternyata itu belumlah cukup bagi suaminya yang memiliki pesona tersendiri bagi banyak perempuan. Dengan alasan ketidak-mampuannya memberi keturunan, ia terpaksa merelakan diri dimadu jika itu membuat suaminya senang. Hatinya tercabik-cabik dengan alasan yang memojokkan itu. Namun kepasrahan dan rasa tak berdaya menyebabkan ia terpaksa menyetujui keinginan tersebut. Suaminya sangat pandai memanipulasi dirinya sehingga dalam ketakberdayaan Petra harus mampu menutupi keadaan yang menghisap habis cahaya kehidupannya ini.
Itu pun belumlah cukup, demi ambisi sang suami ia juga rela dijual kepada publik. Apalagi ambisi tersebut mendapat dukungan dari orang tua Petra yang merupakan salah satu orang ternama di daerah ini. Pengaruh orang tuanya cukup besar terhadap politik setempat. Kemauan suaminya mendapat dukungan penuh dari ayahnya yang tidak pernah tahu bahwa anaknya telah diperlakukan dengan tidak adil. Petra menahan semuanya dengan pertahanan yang berlapis hingga kondisi rumah tangganya tidak diketahui siapa pun termasuk orang tuanya.
Awalnya, Petra beranggapan jika ia memenuhi keinginan dan ambisi suaminya untuk menjadi orang nomor satu maka sang suami pasti akan mendampinginya dan lambat laun ia dapat menarik kembali ke sisinya. Harapan yang tumbuh menyebabkannya menyetujui ide tersebut. Bujukan sang suami meluluhkan hatinya walaupun ia sama sekali tak menyukai politik. Hatinya lebih memilih hidup tenang di sisi suaminya. Ia begitu mendambakan kebahagian bersama dengan suaminya kembali. Asa yang entah kapan akan terwujud.
Memang benar sang suami menjadi lebih sering berada di sisinya. Hampir sepanjang siang Petra selalu bersama sang suami menghadapi masyarakat yang akan dipengaruhinya dalam pemilihan yang akan datang. Dari hari ke hari kondisi tersebut stagnan, tidak berkembang sama sekali. Kebersamaan mereka hanya sebatas itu. Harapannya hanya tinggal harapan, lagi-lagi kehampaan menerpa hatinya yang telah lama menyepi. Pertahanan berlapis yang dibangunnya pun mulai goyah. Kekecewaan demi kekecewaan mengikis pondasi pertahanannya.
”Pa, aku ingin bertemu sekarang. Ada hal penting yang akan aku sampaikan,” Petra menghubungi sang suami yang baru saja meninggalkannya dengan mobil lain.
”Ada apa? Kita baru saja bersama, kenapa tidak tadi saja kamu sampaikan,” formalitas sekali nadanya. Petra benci itu. Sangat membenci keformalan seperti itu.
”Ini baru terpikir dan penting bagi perkembangan pencalonanku,” tegas Petra berkata dan ia mengharapkan sang suami mau berbalik dan menemuinya.
”Hmm, baiklah, jika itu untuk membicarakan tentang pemilihan, di Resto saja ya,” jawab suaminya.
Setengah jam berikutnya mereka bertemu di sebuah restoran besar di kota ini. Makan malam sudah terhidang. Meskipun dirasa telat untuk makan, Petra telah memesannya terlebih dahulu sebab sejak siang mereka berdua memang belum makan.
”Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya suaminya kelihatan tak sabar.
”Pa, aku ingin mengakhiri semuanya!” kata Petra pelan namun tegas.
”Apa maksudmu?” suara sang suami meninggi dan menatapnya tajam.
”Aku akan mundur dari pencalonan, aku sudah tidak berminat,” Petra menjawab tegas dan membalas tatapan tajam suaminya.
 ”Mengapa? Ini kesempatan yang sangat baik bagimu? Respon masyarakat sangat positif. Kamu sudah di atas angin. Mengapa tiba-tiba berpikir konyol seperti itu?” suara suaminya semakin meninggi.
”Karena itu bukan kemauanku. Aku tidak mau diperalat,” jawab Petra sedikit ketus.
”Siapa yang memperalatmu? Ini kesempatan yang baik untukmu. Kenapa kamu sia-siakan. Berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan. Berapa banyak waktumu telah terbuang. Kenapa singkat sekali pikiranmu?” ia menggenggam tangan Petra dan meremasnya kuat menandakan ada kegelisahan yang amat sangat disana.
”Bukankah itu kemauanmu, Pa? Aku tidak menginginkan jadi orang nomor satu. Keinginanku sederhana saja cukup jadikan aku istri nomor satumu! Dan aku tak pernah peduli dengan dana yang telah dikeluarkan kerena bukan berasal dari kantong kita.” ketus Petra menanggapi.
”Kemana arah bicaramu? Kamu masih istriku kan?” suaminya bertanya heran.
”Tapi sudah bertahun-tahun kamu tidak perlakukan aku seperti istri layaknya. Aku hanya istri politikmu. Sebagai maskot yang tak boleh punya perasaan. Aku ini masih manusia normal. Sekarang, aku memutuskan untuk keluar dari semua ini. Aku akan mundur,” kata-kata Petra lugas, tegas dan seperti tidak dapat ditawar lagi keputusannya itu.
”Ma...,” suaminya melunak, tapi hati Petra sudah tidak dapat dilunakkan lagi.
”Terima kasih, kerena kamu masih ingat panggilan itu. Tapi untuk kali ini saja, hargai keputusanku!” Petra sama sekali tidak terpengaruh dengan nada bicara suaminya.
”Ma, tolonglah. Sadarilah bahaya yang sedang mengancamku. Sebentar lagi masa jabatanku berakhir. Kamu kan tau kalau pejabat turun, banyak bahaya yang mengintainya,” suara suaminya melunak dan pandangannya seperti minta dikasihani.
Petra mengerti arah pembicaraan suaminya. Tapi ia telah menentukan sikapnya. Ia tidak mau meneruskan situasi yang telah lama menyiksanya. Ia tidak mau lagi diperlakukan dengan semena-mena dan penuh ketidak-adilan.
”Maaf, Pa. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Aku ingin keluar dari situasi ini,” Petra menunduk menahan tangisnya. Air matanya telah mengering bertahun-tahun yang lalu sehingga tangisnya hanya jatuh ke dalam hati.
”Ma...penjara Ma... relakah Mama kalau aku dipenjara?” tanya yang sangat memelas.
”Lebih baik aku melihatmu di penjara dari pada setiap hari di rumah istri yang lain tanpa sekali pun kamu mau menginap di rumahku. Sekali lagi maaf, Pa.”
”Tegakah kamu? Kamu sudah tidak mencintaiku lagi,” nada suaranya makin putus asa.
”Tega jugakah Papa membiarkanku sendiri selama ini? Ternyata memang tega kan? Jauh di lubuk hatiku, aku masih mencintaimu. Salahku selama ini adalah terlalu memperturutkan keinginanmu sehingga kamu lupa diri, Pa. Karena itu, kembalilah padaku dengan suka rela. Aku menerima kamu apa adanya. Apa dan bagaimanapun keadaanmu,”makin tegas Perta berujar.
”Sekali pun hidupku berakhir di penjara? Tidak adakah cara yang lebih baik?”
”Ya. Sekalipun kamu harus masuk penjara, aku akan mendampingimu, karena aku masih mencintaimu hingga detik ini.”
Akhir pembicaraan, keduanya terpekur di restoran yang sudah sejak tadi ditutup. Dan hari telah menjelang pagi.


Minggu, 24 April 2011

CINTA MONYET KITA


Aku tertegun. Untuk beberapa saat aku terdiam dan memperhatikan sosok ramping yang berada tidak jauh dariku sedang melihat-lihat barang pajangan. Merasa diamati, ia pun menoleh padaku.
“Tyas?” tanyaku ragu-ragu.
Ia mendekatiku dan tiba-tiba memelukku dengan eratnya. Aku terkesiap, tidak menduga reaksinya.
”Ini kamu Nel?” ia baru berujar setelah mengendurkan pelukannya dan ia menatap lurus ke wajahku,”Kamu tidak banyak berubah. Masih seperti yang dulu.”
”Dua puluh lima tahun ya? Kamu juga tidak banyak berubah. Masih mungil dan cantik seperti waktu kita SMP. Gimana kabarmu sekarang,.. dimana tinggal,.. anak sudah berapa orang...,” rentetan pertanyaan yang ku ajukan menyebabkan gelak tawa kami berderai.
Aku menariknya ke cafe terdekat dan memesan minuman ringan serta cemilan kecil. Tanya jawab terjadi seperti air yang mengalir, tak putus-putusnya. Kami sudah tidak mempedulikan orang-orang di sekitar, dan kami seperti kembali ke waktu lampau untuk bernostalgia.
Tyas teman sekelasku sejak kelas satu SMP. Selain sekelas, kami juga selalu duduk bersebelahan. Kebersamaan ini menyebabkan kami menjadi akrab dan bersahabat. Hari-hari di sekolah kami lewati bersama dengan penuh keriangan.
Ketika duduk di bangku kelas tiga, aku merasa Tyas agak berubah. Ia menjadi lebih pendiam. Aku tidak terlalu mempedulikan perubahannya. Aku sibuk dengan kegiatanku sendiri.
Bowo, cowok imut, pendiam, dan bersahaja yang duduk di bangku baris kedua dibelakangku menyita perhatianku. Aku cukup dekat dengannya sejak kelas dua karena kami sama-sama di pengurusan OSIS. Akhir-akhir ini perasaanku menjadi tak menentu terhadapnya.
Pagi hari aku gelisah menunggunya datang ke sekolah. Siang hari berat rasa hatiku berpisah darinya. Ada rasa yang sarat dengan kerinduan bila sekolah telah bubaran. Semakin lama perasaan itu semakin menjadi-jadi. Kegelisahan menjadi temanku sehari-hari.
Pagi itu aku masuk kelas dengan santai. Aku selalu menjadi murid pertama yang datang ke sekolah. Setelah meletakkan tas di laci meja, aku duduk sambil mengamati sekitarku. Pandanganku tertarik pada laci sebelah tempat Tyas biasa meletakkan tasnya. Kertas folio yang terlipat rapi menjadi perhatianku. Aku menariknya dan segera membuka lipatannya.
Tulisan Tyas yang rapi tersusun di atas kertas putih itu. Ternyata  sebuah surat yang ditujukan pada Roro, masih teman sekelas kami. Seluruh isi surat itu kubaca dan aku terkejut mengetahui curahan hatinya. Ternyata sahabatku juga menaruh hati pada teman laki-laki yang sama. Selesai membacanya, surat tersebut kusimpan ke dalam tasku, aku tidak mengembalikannya pada tempat semula.
Hatiku galau. Ada kebimbangan, ada rasa marah, kecewa, semuanya bercampur aduk. Selama ini Tyas tidak pernah bercerita tentang perasaannya padaku. Padahal kami telah cukup lama bersahabat. Semua hal tentang dirinya selalu diceritakannya, kecuali tentang perasaannya itu yang justru ia curahkan pada teman lainnya.
Satu sisi, ia sahabatku. Di sisi lain ternyata ia sainganku. Hatiku mulai dilanda cemburu. Tyas juga cukup dekat dengan Bowo sebab mereka mengambil ekstra kurikuler yang sama. Tanpa ku sadari sepenuhnya, sikapku mulai berubah pada Tyas. Aku sering marah-marah tanpa sebab yang jelas padanya. Ia hanya terdiam jika aku mulai mempelihatkan reaksi kesal atas sesuatu.
Hati Tyas demikian lembut. Ia tak pernah memperlihatkan rasa gusarnya pada sikapku yang agak kasar padanya. Ia berusaha memaklumiku, dan tak pernah sekali pun ia meladeni kemarahanku. Ia tetap bersikap baik padaku.
Pernah sekali aku demikian marahnya hingga menendang mejanya hanya karena ia menukar mejanya yang sedikit basah dengan mejaku. Setelah itu berbulan aku tidak mau menegurnya. Aku tahu, ia merasa heran dengan sikapku. Namun aku tidak peduli. Keegoisanku menyebabkanku tidak dapat mempertimbangkan mana yang lebih baik.
Bowo, teman laki-laki yang sama-sama kami sukai, masih seperti semula, pendiam dan bersahaja. Denganku ia masih berteman baik dan dengan Tyas pun demikian. Tidak sedikitpun ia memperhatikan secara berlebihan diantara kami berdua. Seolah ia tidak tahu persaingan yang terjadi diantara kami.
Hingga kami tamat dari SMP dan masing-masing kami memilih SMA yang berbeda, kami tidak pernah bertemu lagi. Bowo memilih sekolah di kota yang berbeda dengan kami. Aku masih berhubungan melalui surat dengan Bowo hingga setahun kemudian dan selanjutnya benar-benar terputus kontak antara kami.
 ”Jadi kamu marah-marah padaku karena kamu merasa aku akan merebut pacarmu, ya?” tanya Tyas sambil tersenyum.”Aku baru tahu. Aku kira tak ada seorang pun tahu tentang perasaanku kepadanya kecuali Roro.”
”Hmm, siapa bilang dia pacarku. Aku tak pernah pacaran dengannya,” jawabku.
”Jadi waktu itu kalian tidak pacaran? Aku lihat kalian sering jalan bareng,” Tyas merasa tidak percaya dengan jawabanku.
”Mana berani anak pemalu dan pendiam seperti Bowo nembak aku?” aku meyakinkan Tyas dengan balik bertanya.
”Hahaha... ternyata...., dimana dia sekarang?” tanya Tyas di sela tawanya.
”Beberapa waktu lalu aku bertemu dengannya di Jakarta, dia masih seperti dulu, pemalu, pendiam dan tampilannya sederhana saja. Fotonya baru ku tag ke kamu di fb. Dan ternyata orang yang kita demenin sama sekali tidak ada perasaan ke kita karena ketika ku tanya siapa teman yang disukainya ketika SMP, dengan malu-malu dia menjawab,’Miranda’,” aku menjelaskannya pada Tyas dan tidak dapat lagi menahan tawa.
Kami sama-sama tergelak. Tyas sampai mengeluarkan air mata saking merasa gelinya.
”Ternyata, cinta monyet kita benar-benar menjadikan kita seperti monyet yang berebut pisang. Pisangnya entah sudah jatuh dimana, monyetnya masih berantem,” aku tertawa semakin keras.
”Hush.. jangan terlalu keras tawanya, Nel. Nanti dikira orang-orang kita emang monyet beneran,” Tyas juga sudah benar-benar tidak dapat menahan ledakan tawanya.
Tanpa terasa waktu terus berjalan dan hingga saat berpisah pun masih ada sisa tawa itu, dan nostalgia cinta monyet itu segar kembali dalam ingatan.  
  

Minggu, 03 April 2011

Kala Cinta Mesti Berbagi


Ibah gelisah. Tiap sebentar ia melirik jendela mengharapkan bayangan suaminya tampak disana. Harapan yang tidak mungkin terwujud sebab teras yang gelap tanpa adanya penerangan memustahilkan harapan itu. Suaminya memang sedang duduk disana, asyik berbicara menggunakan hp dengan yang seorang lagi di suatu tempat.
Satu jam lebih Ibah menunggu. Makanan yang dihidangkannya sejak tadi sudah dingin. Ia mendekati jendela dan menyibak tirainya sedikit. Suaminya masih juga menelpon.
”Abang...,” lirih suara Ibah,”nasinya sudah dingin.”
Mahmud terkejut dan berpaling melihat ke jendela rumahnya sambil berkata,”Ya, sebentar lagi, Dik.” Kemudian ia mengakhiri percakapannya di hp dan beranjak dari tempat duduknya masuk ke dalam rumah.
Mahmud tersenyum pada istrinya seolah menyatakan maaf atas kealpaannya. Ibah menanggapi dengan senyum hambar yang memang wajib diberikannya. Selanjutnya mereka makan dalam diam. Sesekali Mahmud melirik Ibah dan ingin membuka percakapan, namun niatnya urung setelah dilihatnya Ibah makan dengan khusuk. Tidak terlepas pandangan mata Ibah pada piring yang berada tepat dihadapannya.
Malam kian larut. Anak-anak mereka telah terlelap dalam mimpi masing-masing. Mahmud mendekati istrinya dan mengajaknya untuk tidur,”Sudah larut, mari kita tidur, dik.” Ia ingin mencairkan kebekuan yang amat kentara diantara mereka. Ia ingin menciptakan kemesraan diantara mereka kembali. Namun hal tersebut terasa berat kini. Semuanya dilakukan hanya karena kewajiban. Semuanya dilakukan dengan penuh kebimbangan.
Melihat reaksi Ibah yang begitu pasrah dan menurut saja seolah tanpa kemauan, ia pun tak sanggup meneruskannya. Ibah memandang tidak mengerti. Namun dalam diamnya iapun sebenarnya telah mengerti apa yang sedang terjadi diantara mereka.
Ternyata ikhlas itu sangat berat. Meskipun otak Ibah telah direcoki dengan dogma dan ajaran yang lebih mementingkan dunia akhir dengan ikhlas menerima segala suratan, namun pada perasaannya selalu saja ada yang tidak sejalan dengan pikirannya. Terkadang jiwanya berontak, namun ia tak berdaya. Surga serasa sudah dipelupuk matanya makin lama makin memudarkan penglihatan terhadap hal lain.
”Tidurlah, Dik. Sudah seharian mengurus rumah dan anak-anak, pasti lelah sekali,” akhirnya Mahmud berujar.
Ibah menurut dan langsung memejamkan matanya. Reaksi seperti itu dirasakan Mahmud seperti orang tanpa jiwa. Dalam pandangannya, Ibah telah berubah menjadi robot yang patuh pada perintah tanpa memiliki hasrat sendiri.
Pagi.
Mahmud pergi meninggalkan rumah untuk berangkat kerja sambil membawa kedua anak laki-lakinya untuk diantar ke sekolah. Ibah memandangi punggung suaminya dari balik jendela. Ia menghela napas panjang dan menghembusnya dengan cepat. Dada Ibah naik turun dengan ritme yang semakin kencang dan tiba-tiba tangisnya meledak. Air matanya mengalir deras tak terbendung lagi. Untuk beberapa saat ia terisak-isak. Kedua tangannya mengelus dada yang terasa kian sesak.
”Mi...,” lirih suara anak bungsunya dan mengembalikan kesadarannya kembali. Si bungsu baru berumur tiga tahun. Ibah segera menghapus air matanya. Tangan mungil Azzura menggapai tangannya dan menarik ke pintu.
”Iya sayang. Zura ingin main di luar, ya?” ujar Ibah sambil membuka pintu sedikit agar anaknya bisa keluar.
Beberapa saat ia mengawasi anaknya yang bermain sendirian di luar rumah. Menyendok pasir dan memindahkan kerikil menjadi kegiatan bermain yang disukai oleh anaknya.
Ibah melirik jam dinding, pukul 9.00. Seharusnya ia bersiap untuk menemui guru spritualnya. Namun kali ini perasaan enggan mulai merayap, menjalar ke hatinya yang sedang galau. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap di rumah dan merenungi kejadian demi kejadian akhir-akhir ini.
Ibah mencoba menenangkan perasaannya. Pikirannya kembali ke beberapa waktu yang telah lewat. Keputusan mengizinkan suaminya menikah lagi berlandaskan pada keyakinan akan pengorbanan terbesar dalam hidupnya untuk melempangkan langkahnya menuju tempat akhir terindah. Keyakinannya sudah mantap ketika memutuskan hal tersebut, tanpa keraguan sedikit pun dihatinya.
Saat suaminya mengikrarkan ijab qabul yang kedua kalinya, Ibah pun ikut menghadiri dan duduk dengan tenang menyaksikan seluruh rangkaian acara. Banyak undangan yang terheran menyaksikan ketenangannya dan Ibah tidak mempedulikan hal tersebut.
Hari-hari selanjutnya Ibah harus berbagi. Semula dirasakan tanpa beban di hati. Jika tiba giliran yang satu lagi, ia hanya menganggap suaminya sedang dinas ke luar kota, sehingga tidak terlalu dimasalahkannya.
Memasuki bulan kedua, madunya mulai hamil. Bila sedang giliran Ibah, suaminya lebih banyak duduk di luar rumah menelpon berkali-kali, mulai dari pulang kerja hingga magrib, disambung lagi setelah itu dan setelah itu. Hal inilah yang menyebabkan perasaan Ibah pun terganggu dan keyakinannya mulai goyah.  
Ibah mulai merasakan suaminya semakin jauh meninggalkannya. Bisa jadi raganya berada di dekat Ibah, namun sukmanya mengembara jauh ke tempat satu lagi. Ibah merasa hanya memperoleh raga tanpa jiwa. Hatinya mulai dirasuki kecewa. Untuk menutupi perasaan yang mulai tercemar dengan rasa cemburu ia memutuskan untuk memperdalam ilmu dengan guru spritual. Mahmud mengizinkannya. Setiap hari Ibah ke luar rumah untuk menggali ilmu ikhlas lebih dalam dari pagi hingga siang. Sorenya, Ibah mengajar jemaah lainnya.
Tanpa disadari sepenuhnya, anak-anaknya menjadi seperti anak terlantar. Anak bungsunya sehari-hari dititipkan pada tetangga. Jika siang, kedua anak laki-lakinya pulang sekolah, Ibah sering terlambat pulang sehingga mereka terpaksa masak mi instan sendiri. Masih untung anak gadis tertuanya telah dititip di sekolah berasrama sehingga tidak merasa ditelantarkan (atau justru mungkin ia merasa telah lama diterlantarkan).
Beberapa kali tetangga Ibah komplain dengan prilaku anak ketiganya yang kerap mengganggu teman sepermainan hingga menimbulkan cidera. Ibah hanya bisa mengurut dada dan mengurus pengobatan anak yang terluka. Berkali-kali ia menasehati anaknya namun kejadian seperti itu berulang kembali. Ibah semakin merasa tak berarti karena anaknya tidak mau mengikuti perintahnya untuk berbuat baik.
Masalah demi masalah datang silih berganti. Ibah berusaha mendiskusikan dengan suaminya. Lagi-lagi suaminya hanya menyerahkan semua tanggung jawab di rumah kepadanya, tanpa berusaha mencari solusi lain menghadapi kebandelan anak mereka. Bahkan pernah terlontar kata suaminya yang seolah menyalahkannya tidak mampu menjaga anak-anak. Hati Ibah semakin tidak rela dipersalahkan demikian.
Ibah merasa suaminya sudah semakin jauh dan tidak peduli dengan dirinya. Apalagi menjelang madunya melahirkan. Jatah hari semakin banyak untuk disana dengan alasan sewaktu-waktu ia dapat saja melahirkan mengingat kandungan yang lemah. Alasan yang membuat hati Ibah rasa dicambuk, sakit dan darahnya mengalir keluar. Ia tidak rela karena merasa suaminya telah berlaku tidak adil padanya. Tapi ia tak bisa mengajukan protes sebab suaminya terlebih dahulu telah meminta pengertiannya.
Kekecewaan demi kekecewaan membawa Ibah dalam kemurungan dan keyakinannya goyah sudah. Terkadang tebersit pikiran untuk menyingkirkan madunya agar kemesraan rumah tangganya kembali seperti semula. Penyesalan selalu datang terlambat. Jika ada jalan lain menuju surga, mengapa ia lebih memilih jalan ini yang teramat berat dan penuh duri.
Hatinya bimbang. Masih adakah cinta untuk suaminya? Masih adakah cinta untuknya? Jika bersama, suaminya hanya mengingat yang satu lagi. Jika didekatnya, buah bibir suaminya hanya yang satu lagi. Jika suaminya berada di dekat satu lagi, hampir tidak pernah menghubunginya seperti suaminya menghubungi yang satu lagi bila berada di rumahnya.
Perasaannya mulai hambar terhadap suaminya. Dalam pikirannya, bila suaminya menyentuhnya bisa jadi dia sedang membayangkan yang satu lagi. Pikiran ini amat menyiksanya hampir tiada henti. Dan Ibah telah lama kehilangan hasratnya setelah berbulan-bulan kemudian suaminya masih sibuk membantu istrinya menjaga bayi mereka. Lagi-lagi Mahmud meminta pengertian darinya.
Jiwa Ibah terasa mati. Hidupnya hanya diisi oleh sisa-sisa ajaran yang telah membuatnya seperti mati suri. Kepasrahan yang diperlihatkannya ternyata menyimpan gejolak yang maha dahsyat yang tanpa disadarinya telah mengubah prilaku dan pendiriannya selama ini. Keteguhan dan keyakinannya hilang sudah dan kebimbangan membawanya pada satu keputusan.
Siang.
Kedua anak laki-lakinya pulang sekolah. Ibah segera menyuguhkan mereka makanan yang dimasaknya secara spesial. Tidak seperti biasanya, Ibah mencium kening anak-anaknya dan memeluk mereka erat.
”Mi, ada apa?” Usman, anaknya, bertanya keheranan.
Ibah tersenyum lembut, ”Hari ini hari spesial, makanan spesial dan ada jus mangga sebagai penutup.”
”Hari ini ada yang ulang tahun?” tanya Usman penasaran.
”Anggaplah iya,” jawab Ibah sekenanya sambil menyendokkan nasi ke piring mereka.
” Kenapa Zura sudah tidur jam segini?” kembali anaknya bertanya.
”Dia kelelahan bermain tadi. Biarlah ia beristirahat dengan tenang. Jangan diganggu. Setelah makan, kalian pun harus beristirahat. Sore baru boleh main,” Ibah menjawab dengan senyum misterius. Usman merasakan suatu keganjilan, namun ia tidak bertanya lagi.
Setelah makan, kedua anaknya ikut berbaring di sebelah adiknya yang telah sejak tadi terlelap. Ibah mengelus mereka dam menciumi kening mereka satu per satu. Kali ini air mata mengalir perlahan dipipinya.
”Ada apa, mi?” mata anaknya sudah mulai redup, namun masih sempat melontarkan pertanyaan.
”Tidurlah, agar nanti badan kalian kembali segar. Dan kalian akan menemukan kedamaian,” jawab Ibah dan air matanya makin menderas.
Ibah tidak ingin anak-anaknya merasakan sakit seperti yang ia rasakan sepanjang hari sejak suaminya berubah. Ibah ingin anak-anaknya bahagia tanpa menimbulkan masalah lagi. Ibah ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibah ingin anak-anaknya berada di surga lebih dahulu dari dirinya.
Menjelang magrib.
Mahmud pulang dari tempat kerjanya. Ia mendapati istri dan anak-anaknya terbaring kaku. Ada selembar kertas di atas meja yang bertuliskan ”Hanya satu kenangan kita yang tersisa, Annisa. Jagalah ia.”